JATIMPOS.CO/SURABAYA- Kepala UPT Museum Negeri Mpu Tantular di Buduran Sidoarjo, Sadari, S.Sn telah 25 tahun bertugas di Museum tersebut. Sudah mengenal seluk beluk, kenyamanan maupun hambatan pengelolaan museum. Ia menceritakan bagaimana museum lebih dicintai warga khususnya di Jatim.
“Pengunjung tetap banyak terutama kalangan pelajar. Hanya waktu covid-19 anjlok, tetapi kami tetap mensiasati dengan layanan online,” ujarnya di kantor Museum Mpu Tantular, Rabu (17/12/2025).
Ada beberapa inovasi di Museum Mpu Tantular, yang mungkin satu-satunya di Indonesia, misalnya ruang tuna netra. “Disitu saudara-saudara kita yang tuna netra bisa menyaksikan atau mengenal koleksi museum,” ujar Sadari.
Selain itu terdapat zona Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), dimana para pengunjung khususnya pelajar bisa mengetahui sejarah perkembangan dan teknologi alam. “Misalnya teori bayangan, hukum Archimedes dan sebagainya berkaitan alam,” katanya.
Secara keseluruhan menurut Sadari, koleksi museum Mpu Tantular berjumlah 15.272 koleksi berharga. Yang bisa dipamerkan berjumlah 1.200 koleksi. “Tentu ini menjadi tantangan dan harapan bersama agar ada tambahan ruang koleksi sehingga bisa keseluruhan,” paparnya.
Luas lahan museum Mpu Tantular sekitar 3 hektar, sangat memungkinkan untuk membangun Gedung baru untuk ruang koleksi, pameran, hall umum, lahan parkir dan sebagainya. “Master plan sudah ada, sudah kita ajukan program pembangunannya. Nah ini mudah-mudahan bisa terealisasi,” katanya.
Ia tetap optimis bahwa museum tetap menjadi kebutuhan masyarakat khususnya pelajar, meskipun ada anggapan bahwa museum bukan menjadi prioritas kebutuhan. Dari perkembangan yang ada, khususnya Museum Mpu Tantular tetap menunjukkan perkembangan positif.
Berbagai upaya terus dilakukan termasuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Misalnya online media, youtube, Instagram, zoom meeting. “Tetapi datang melihat langsung koleksi bersejarah tetap perlu dilakukan,” tambahnya.
Museum Mpu Tantular menurut sejarahnya berawal dari Stedelijk Historisch Museum Surabaya yang didirikan oleh Godfried von Faber tahun 1933 dan diresmikan 1937 dengan lokasi di Jalan Pemuda no 3 Surabaya.
Lalu diakuisisi pemerintah dan pada tanggal 1 November 1974 diresmikan menjadi Museum Negeri Provinsi Jawa Timur Mpu Tantular. Nama Mpu Tantular adalah pujangga Kerajaan Majapahit yang menulis Kakawin Sutasoma, sumber frasa "Bhinneka Tunggal Ika".
Ketika diakuisisi pemerintah, koleksinya dipindahkan ke tempat lebih luas di Jalan Taman Mayangkara No. 6 Surabaya dan diresmikan 12 Agustus 1977. Dan Selanjutnya pada tanggal 14 Mei 2004 menempati lokasi tetap dan lebih representatif di Jl. Raya Buduran, Sidoarjo (sebelah barat Jembatan Layang Buduran) hingga saat ini.
Sekarang museum ini berganti nama menjadi Museum Negeri Mpu Tantular, dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemerintah Provinsi Jawa Timur. (sa)