JATIMPOS.CO//BONDOWOSO. Pemerintah Kabupaten Bondowoso mendorong penguatan hilirisasi komoditas kopi dan tembakau sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah produk unggulan daerah. Dorongan itu disampaikan dalam penutupan Festival Kopi Nusantara 9 dan Tembakau di Bondowoso.
Festival tersebut dinilai tidak sekadar menjadi ruang promosi produk lokal, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat citra Bondowoso sebagai daerah penghasil kopi berkualitas sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bondowoso, As'ad Yahya Syafi'i, menyebut festival menjadi bukti kesiapan Bondowoso untuk terus bergerak maju di tengah pembangunan daerah dan tumbuhnya kreativitas generasi muda.
Semangat anak-anak muda Bondowoso dinilai semakin terlihat melalui berbagai inovasi dan kegiatan positif yang memanfaatkan ruang publik. Kondisi tersebut diharapkan menjadi kekuatan baru dalam mengembangkan potensi ekonomi dan pariwisata daerah.
Pada kesempatan itu, Wabup juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pemenang berbagai lomba yang digelar selama festival. Para pemenang diharapkan tidak berhenti pada pencapaian tersebut, tetapi terus berkarya dan membawa nama Bondowoso ke tingkat yang lebih luas.
Pesan tentang perjuangan dan ketekunan juga disampaikan melalui kutipan dari buku Filosofi Kopi karya Dee Lestari. Kopi yang pahit dapat menjadi nikmat ketika diolah dengan hati, sebuah gambaran bahwa keberhasilan membutuhkan proses dan kerja keras.
" Kesuksesan dan keindahan hidup tidak datang dengan mudah. Perjuangan kita untuk membangun diri dan komunitas kita juga membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kerja keras," demikian pesan yang disampaikan dalam penutupan festival, Jum'at (4/9/2026).
Festival Kopi Nusantara 9 dan Tembakau diharapkan mampu membangkitkan kembali semangat Bondowoso sebagai Republik Kopi. Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan daya tarik serta memperluas pasar kopi produksi daerah.
Kopi arabika Ijen-Raung menjadi salah satu komoditas unggulan yang terus didorong untuk memiliki daya saing lebih tinggi. Selain kopi, tembakau khas Bondowoso juga disebut memiliki kualitas yang dapat dikembangkan untuk menembus pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
Pengembangan kedua komoditas tersebut diharapkan memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan petani. Pada saat yang sama, aktivitas ekonomi yang tumbuh di sektor pengolahan dan perdagangan juga diharapkan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat secara lebih luas.
Pemerintah daerah menilai penguatan komoditas lokal tidak cukup hanya dilakukan melalui peningkatan produksi. Tahap berikutnya adalah mendorong hilirisasi agar hasil pertanian tidak berhenti dalam bentuk bahan mentah.
"Ke depan, kita harus berani melangkah lebih jauh dengan beralih dari produksi ke hilirisasi komoditas," ujarnya.
Melalui hilirisasi, kopi Bondowoso diharapkan dapat diolah menjadi berbagai produk inovatif dengan nilai tambah lebih tinggi sebelum dipasarkan di tingkat nasional maupun internasional. Untuk mewujudkannya, pemerintah, petani, pelaku UMKM, akademisi, dan generasi muda dituntut membangun kolaborasi yang kuat.
Penutupan festival sekaligus menjadi ajakan kepada masyarakat, khususnya generasi muda dan pelajar, untuk semakin mencintai dan menggunakan produk lokal.
" Dengan penguatan produksi, hilirisasi, promosi, dan kolaborasi, kopi serta tembakau diharapkan menjadi penggerak ekonomi sekaligus memperkuat identitas Bondowoso di pasar nasional dan global, " Pungkasnya. (Eko)