JATIMPOS.CO/TUBAN – Laku spiritual "Sujud Penggalian Pribadi Manusia" yang digelar warga Kerohanian Sapta Darma Kabupaten Tuban resmi ditutup hari ini, Senin (27/7). Kegiatan spiritual intensif lintas generasi yang berlangsung selama satu minggu penuh (21-27 Juli 2026) di Sanggar Candi Busana, Desa Tegalbang, Kecamatan Palang, ini sukses diikuti oleh 36 peserta.
Dalam sesi penutupan, Khotif selaku Tim Utama Tuntunan Penggali menyampaikan bahwa sujud penggalian ini tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan mutu serta kualitas rohani setiap warga penghayat. Melalui penempaan batin ini, peserta dibimbing untuk melatih keheningan, mengolah rasa, serta menyelaraskan diri agar senantiasa memancarkan keluhuran.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa hasil akhir dari kualitas batin yang baik harus tecermin dalam tindakan nyata di tengah masyarakat. Dalam penerapannya sehari-hari, warga Sapta Darma wajib berperilaku luhur sesuai dengan Sesanti (semboyan) Agung: “Ing Ngendi Bae, Marang Sopo Bae, Warga Sapta Darma Kudu Sumunar Pinda Baskara”. Falsafah ini menegaskan tanggung jawab moral setiap penghayat untuk menjadi berkat dan membawa manfaat bimbingan berupa kebaikan bagi siapa saja dan di mana saja tanpa pandang bulu, laksana cahaya matahari yang menyinari bumi.
Selama enam hari berturut-turut, ke-36 peserta—yang terdiri dari 26 pria dan 10 wanita—menjalani laku tirakat maraton dengan disiplin tinggi. Setiap peserta diwajibkan melaporkan perkembangan spiritual mereka langsung kepada jajaran Tuntunan Penggali (Khotif, Suyoto, dan Sri Lestari) untuk mendapatkan wejangan individual agar tidak terjadi salah tafsir atas petunjuk rohani yang diterima.
Kaspari, Tuntunan Kabupaten Tuban, berpesan agar peserta memegang teguh Lima Modal Utama (K5): Kemauan, Kemampuan, Keikhlasan, Kejujuran, dan Kaya Darma. Sementara itu, kelancaran operasional dan logistik didukung penuh oleh jajaran panitia setempat yang dikomandoi oleh Syukur Hendriyono (Ketua), Karmijan (Sekretaris), dan Surawan (Bendahara). (nto)