JATIMPOS.CO//SURABAYA – Anak berkebutuhan khusus memiliki potensi untuk berkarya, mengembangkan keterampilan, dan menghasilkan produk bernilai ekonomi apabila memperoleh kesempatan serta pendampingan yang sesuai.
Semangat inilah yang diwujudkan oleh tim pelaksana dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui kegiatan Pemberdayaan Potensi Ekonomi Anak Berkebutuhan Khusus melalui Pelatihan Pembuatan Kain Shibori Adaptif di Sekolah Luar Biasa (SLB) Aditama Surabaya.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, pada 21–23 Oktober 2026, ini didukung oleh hibah Dana Departemen Studi Pembangunan Tahun 2026. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan keterampilan vokasional yang dapat membuka peluang produktivitas dan kemandirian ekonomi bagi anak berkebutuhan khusus.
Tim pelaksana kegiatan terdiri atas Dr. Kartika Nuswantara, S.Pd., M.Pd. selaku ketua pengabdi, bersama dua anggota tim, yaitu Ratna Rintaningrum, S.S., M.Ed., Ph.D. dan Hermanto, S.S., M.Pd. Ketiganya berasal dari Departemen Studi Pembangunan, Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital, ITS. Selain ketiga dosen tersebut, 13 mahasiswa Program Studi Sains Komunikasi terlibat dalam memberikan pendampingan. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dinaungi oleh Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS.
Shibori Adaptif: Belajar Keterampilan melalui Kreativitas
Shibori merupakan teknik pewarnaan kain yang menghasilkan motif unik melalui proses melipat, mengikat, atau menjepit kain sebelum dicelupkan ke dalam pewarna. Keunikan pola dan perpaduan warna menjadikan kain shibori berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk kerajinan yang menarik.
Dalam pelatihan ini, teknik shibori diperkenalkan melalui pendekatan adaptif, yaitu penyesuaian tahapan kerja, penggunaan alat dan bahan, serta bentuk pendampingan dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Pendekatan ini penting agar anak dapat terlibat secara aktif dalam proses pembuatan kain, bukan sekadar menjadi penerima demonstrasi.
Melalui praktik langsung, peserta didik berkesempatan mengenal bahan, mencoba teknik pelipatan atau pengikatan kain, melakukan pewarnaan, serta mengamati motif yang terbentuk setelah kain dibuka. Setiap tahap menjadi kesempatan untuk melatih kreativitas, ketelitian, koordinasi gerak, dan kemampuan mengikuti instruksi sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Prinsip utama pelatihan ini adalah memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk berpartisipasi dan menghasilkan karya melalui proses yang sesuai dengan kebutuhannya. Keberhasilan tidak semata-mata diukur dari keseragaman hasil, tetapi juga dari keterlibatan peserta, pengalaman belajar, dan perkembangan keterampilan yang diperoleh.
Menghubungkan Keterampilan dengan Peluang Ekonomi
Pelatihan shibori adaptif tidak hanya diarahkan pada pengenalan seni dan kerajinan, tetapi juga pada pengembangan wawasan mengenai potensi ekonomi dari hasil karya. Kain yang telah diwarnai dapat dikembangkan menjadi berbagai produk, seperti syal, tas kain, suvenir, aksesori, maupun perlengkapan rumah tangga.
Produk-produk tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut melalui peningkatan kualitas, variasi desain, pengemasan, dan pemasaran. Dengan demikian, keterampilan vokasional dapat menjadi langkah awal untuk mengenalkan peserta didik pada aktivitas produktif dan kemungkinan pengembangan usaha sesuai dengan minat serta kemampuannya.
Meski demikian, pemberdayaan ekonomi memerlukan proses yang berkelanjutan. Latihan keterampilan perlu diikuti dengan pendampingan produksi, pengenalan kualitas produk, dukungan keluarga dan sekolah, serta akses terhadap peluang pemasaran. Pelatihan tiga hari ini diharapkan dapat menjadi titik awal untuk menumbuhkan minat dan memperkenalkan keterampilan yang berpotensi dikembangkan pada masa mendatang.
ITS Dorong Pembelajaran Vokasional yang Inklusif
Kegiatan di SLB Aditama Surabaya ini menunjukkan pentingnya kolaborasi perguruan tinggi dan lembaga pendidikan khusus dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Keterampilan vokasional yang dirancang secara adaptif dapat menjadi salah satu sarana untuk memperluas kesempatan anak berkebutuhan khusus dalam berekspresi, belajar, dan berpartisipasi dalam kegiatan produktif.
Lebih dari sekadar membuat kain bermotif, kegiatan ini membawa pesan bahwa keterbatasan tidak seharusnya membatasi kesempatan seseorang untuk berkarya. Setiap anak memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui pendekatan pembelajaran yang tepat, lingkungan yang mendukung, dan kesempatan untuk mencoba.
Melalui dukungan hibah Dana Departemen Studi Pembangunan Tahun 2026, tim ITS berupaya menghadirkan kegiatan pemberdayaan yang menghubungkan kreativitas, keterampilan praktis, dan potensi ekonomi.
Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat perhatian terhadap pengembangan keterampilan vokasional bagi anak berkebutuhan khusus sekaligus mendorong tumbuhnya lingkungan yang lebih inklusif.
Dari selembar kain shibori, tersimpan peluang untuk menumbuhkan kreativitas, kepercayaan diri, dan kemandirian. Sebab, pemberdayaan yang bermakna bukan hanya tentang menghasilkan produk bernilai jual, melainkan juga tentang membuka kesempatan bagi setiap anak untuk menunjukkan potensi dan berkontribusi di tengah masyarakat.(ril)