JATIMPOS.CO/KEDIRI- Pergelaran wayang kulit dalang Ki Cahyo Kuntadi, S.Sn, M.Sn dengan lakon “Wahyu Katentreman” berlangsung meriah di Desa Lamong, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri pada Sabtu malam (22/11/2025).

Antusias warga tampak pada gelar acara itu karena lakon Wahyu Katentreman sangat bermanfaat. “Selain menjadi hiburan, juga pesan-pesan didalamnya sangat baik untuk tuntutan hidup,” ungkap Sahri, penonton asal Desa Lamong Badas Kediri.

Kegiatan ini diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim bersama DPRD Provinsi Jatim.

“Ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata untuk memajukan dan mengembangkan kebudayaan Jawa Timur khususnya wayang,” ujar Kadisbudpar Jatim Evy Afianasari dalam yang disampaikan Ibu Lesli Citra Pertiwi, pejabat pada Bidang Kebudayaan Disbudpar Jatim

Disebutkan, kebudayaan merupakan bagian penting dalam penguatan jati diri dan penguatan karakter bangsa atas dasar nilai – nilai luhur yang terkandung di dalamnya. wayang sendiri telah mendapat pengakuan dan penghargaan sebagai masterpiece of oral and intangible heritage of humanity oleh unesco pada tahun 2003.

“Sehingga pergelaran wayang hari ini adalah wujud komitmen kita untuk menjaga dan melestarikan wayang, sekaligus mengenalkannya pada masyarakat terkhusus generasi muda agar muncul rasa bangga dan rasa memiliki terhadap budayanya,” ujarnya.

Hadir pada kesempatan itu anggota DPRD Provinsi Jatim M. Hadi Setyawan, pejabat Disbudpar Jatim, pejabat Pemkab Kediri, Forpimcam Badas, Kades dan tokoh masyarakat.

Anggota DPRD Provinsi Jatim M. Hadi Setyawan pada kesempatan itu mengemukakan, dengan kegiatan seperti itu memastikan kebudayaan terjaga, juga memastikan ekonomi kreatif ikut berkembang. Dalam setiap pagelaran budaya, masyarakat berkumpul dengan rukun, dan ekonomi rakyat ikut bangkit.

“Mulai penjual pentol sampai pedagang lainnya, insyaAllah semuanya laku. Ini menunjukkan bahwa di Indonesia, khususnya Jawa Timur, budaya yang kuat mampu menumbuhkan ekonomi kreatif,” ujarnya.

“Kita sebagai warga negara Indonesia wajib menjaga budaya kita sendiri. Sebagai bangsa besar yang memiliki budaya kuat, itu adalah anugerah dari Tuhan. Kemerdekaan yang diberikan Allah SWT mari kita jaga dengan hidup rukun,” pungkas M. Hadi.

 Mencari Ketenteraman

WAYANG kulit lakon ”Wahyu Ketentraman” mengisahkan bagaimana upaya menentramkan kehidupan masyarakat. Kisah keinginan Semar sebagai perantara turunnya “Wahyu Ketenteraman”, suatu kekuatan gaib untuk menentramkan masyarakat.

Usaha itu dilakukan untuk melenyapkan Pagebluk (gangguan/penyakit) yang melanda daerah. Semar sebagai perantara turunnya wahyu mendapat petunjuk Dewa agar wahyu dapat diberikan kepada yang berhak dengan penuh kedamaian.

Karena itu Semar menugaskan kepada para putra Pendawa, anak-anak generasi muda, guna mendapatkan syarat-syarat mendapat wahyu berupa tiga pusaka Senjata Cakra milik Prabu Kresna, Jimat Kalimasada milik Prabu Punta Dewa dari Ngamarta, dar Dwarowati dan Kyai Nenggala milik Prabu Bolodewa.

Semua keluarga berkumpul di kediaman Semar dan mendapat penjelasan bahwa Wahyu itu sudah ada pada Semar. Ia menjelaskan bahwa Wahyu yang ada di Kuncung akan segera masuk kepada salah satu yang hadir pada saat itu. Karena itu secara sengaja Semar mengumpulkan semua kerabat agar menyaksikan kepada siapa Wahyu akan menempatkan dirinya.

Semua kalangan merasa nyaman kecuali keluarga Ngastina yang berontak ingin mendapatkan Wahyu tersebut. Tetapi karena keluarga Kresna, Punta Dewa dan Bolodewo kompak bersatu, bergotong-royong amukan keluarga Kurawa dengan mudah dapat diselesaikan.(rls)