JATIMPOS.CO//BONDOWOSO. Komunitas MAZ Localore resmi diluncurkan sebagai wadah bagi pelajar tingkat SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah (MA) di Kabupaten Bondowoso untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi berbasis kearifan lokal serta transformasi digital.

Peluncuran komunitas tersebut dirangkaikan dengan talk show pengembangan 20 Intellectual Properties (IP) berbasis kreativitas digital dan kearifan lokal. Kegiatan ini menjadi langkah untuk mendorong potensi generasi muda agar tidak berhenti pada gagasan, tetapi mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi.

Bupati Bondowoso melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bondowoso Dwi Wahyudi, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif MAZ Localore yang membuka ruang kolaborasi bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas dan potensi daerah.

Dalam sambutan yang dibacakannya, Dwi menyampaikan bahwa kekayaan daerah di era digital tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi juga pada kekuatan ide, kreativitas, budaya, dan kemampuan mengolah potensi lokal menjadi karya bernilai ekonomi.

" Bondowoso memiliki kekayaan budaya dan berbagai potensi unggulan yang dapat dikembangkan melalui karya kreatif dan inovatif. Pengembangan tersebut diharapkan membuat identitas daerah semakin dikenal luas sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, " Katanya, Minggu (25/10/2026). 

Pengembangan Intellectual Property atau kekayaan intelektual dinilai menjadi salah satu peluang strategis.

" Melalui kreativitas digital, cerita, budaya, dan identitas lokal dapat diolah menjadi berbagai produk kreatif yang memiliki karakter serta peluang pasar, " Ungkapnya. 

Sementara itu, Founder MAZ Localore, Azka Fauzani menjelaskan bahwa komunitas tersebut menyasar pengurus OSIS dan pelajar yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler di tingkat SMA, SMK, dan MA, baik negeri maupun swasta.

" Komunitas ini dirancang untuk menghimpun potensi pelajar di bidang industri kreatif, mulai dari pembuatan film, animasi, desain, merchandise, hingga pengembangan produk lain yang dapat mengangkat identitas daerah, " Ujarnya. 

Potensi lokal Bondowoso, seperti Gunung Ijen, menjadi salah satu inspirasi yang dapat dikembangkan menjadi produk kreatif. Pelajar diharapkan mampu mengemas kekayaan daerah melalui desain dan inovasi yang menarik sekaligus memiliki daya jual.

“Bukan hanya kreatif saja, tetapi kreativitasnya itu bisa diwujudkan dengan hal-hal yang berbentuk nyata,” ujar penggagas MAZ Localore saat menjelaskan visi komunitas tersebut.

Ia berharap karya yang dihasilkan para pelajar nantinya tidak hanya menjadi sarana ekspresi, tetapi juga berkembang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. 

" Dengan begitu, kreativitas generasi muda dapat membuka peluang usaha sekaligus memperkenalkan potensi Bondowoso kepada masyarakat yang lebih luas, " Tuturnya. 

Pemilihan pelajar sebagai sasaran utama juga berkaitan dengan upaya membangun kolaborasi antara komunitas dan sekolah. Menurut penggagasnya, sekolah dapat menjadi ruang untuk mengembangkan keterampilan siswa sekaligus memanfaatkan kemampuan mereka dalam berbagai kebutuhan kegiatan pendidikan.

" Misalnya, ketika sekolah membutuhkan jasa desain, video, publikasi, atau produk merchandise untuk suatu kegiatan, kebutuhan tersebut dapat melibatkan karya para siswa. Pola ini diharapkan membantu mengoptimalkan potensi yang dimiliki pelajar sekaligus memberikan pengalaman berkarya secara langsung, " Ucapnya.

Dirinya berharap adanya dukungan yang membuka akses bagi karya kreatif pelajar. Pemerintah kabupaten diharapkan dapat melibatkan produk dan jasa kreatif lokal dalam berbagai kegiatan, sehingga potensi siswa memperoleh ruang promosi dan kesempatan untuk berkembang.

Dwi Wahyudi dalam sambutannya juga berharap MAZ Localore dapat menjadi ekosistem kreatif yang menghubungkan talenta muda, dunia usaha, lembaga pendidikan, komunitas, dan pemerintah.

" Kolaborasi tersebut diperlukan agar karya inovatif dapat berkembang secara berkelanjutan dan memiliki nilai tambah, " Pungkas Dwi. (Eko)