JATIMPOS.CO//PASURUAN – Pemerintah Kabupaten Pasuruan mendukung penguatan akses air bersih dan sanitasi di lingkungan pondok pesantren. Hal itu disampaikan dalam Festival Akses Air Bersih dan Sanitasi Pesantren Jawa Timur di Pesantren Ngalah, Kamis (8/10/2026).

Kegiatan bertajuk “Mengalirkan Kebaikan: Akses Air Bersih dan Sanitasi untuk Santri Indonesia” tersebut dihadiri Wakil Bupati Pasuruan K.H. Muhammad Shobih Asrori bersama unsur pesantren, pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas.

Festival tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk memperluas akses air bersih dan fasilitas sanitasi sekaligus meningkatkan edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan pesantren.

Persoalan air bersih dan sanitasi menjadi perhatian karena pesantren merupakan lingkungan pendidikan berbasis asrama dengan jumlah penghuni yang relatif besar. Penggunaan fasilitas secara bersama membuat ketersediaan air dan sanitasi menjadi kebutuhan penting bagi aktivitas santri.

Dalam kegiatan tersebut disampaikan hasil survei Serikat Ekonomi Pesantren pada 2024 terhadap 210 pondok pesantren di Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Sekitar 54 persen pesantren di Jawa Timur yang disurvei disebut telah memiliki akses air bersih layak, sedangkan fasilitas sanitasi yang memadai tercatat sekitar 38 persen.

Data Badan Pusat Statistik yang dikutip dalam kegiatan tersebut juga menyebut akses sanitasi layak secara nasional pada 2024 mencapai 83,60 persen. Angka tersebut masih menyisakan sekitar 45,4 juta masyarakat yang belum memperoleh akses sanitasi layak.

Selain itu, hampir 25 juta penduduk disebut belum menggunakan toilet, sedangkan pengolahan air limbah domestik secara aman baru mencapai sekitar 7 persen.

Public Affairs & Sustainability Director Danone Indonesia Karyanto Wibowo mengatakan penyediaan fasilitas air bersih dan sanitasi perlu berjalan beriringan dengan perubahan perilaku.

“Upaya menghadirkan akses air bersih dan sanitasi yang layak tidak hanya tentang menyediakan fasilitas, tetapi juga menumbuhkan perilaku hidup bersih dan sehat,” kata Karyanto.

Menurut Karyanto, lingkungan pesantren memiliki posisi strategis dalam membentuk kebiasaan santri. Nilai dan perilaku yang diperoleh selama berada di pesantren diharapkan dapat diterapkan ketika mereka kembali ke keluarga dan masyarakat.

Dalam festival tersebut, Danone Indonesia berkolaborasi dengan Yayasan Sinergi Ekosistem Pesantren (SEP) dan Water.org. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan ialah WaterCredit, yakni skema pembiayaan yang diarahkan untuk membantu pesantren memperoleh dukungan pembiayaan dalam penyediaan sarana air bersih dan sanitasi.

Executive Director for Southeast Asia Water.org Yuniar Restanto mengatakan pemenuhan kebutuhan air bersih dan sanitasi memiliki dampak terhadap kesehatan dan produktivitas masyarakat.

“Investasi pada air dan sanitasi adalah investasi bagi masa depan generasi yang lebih sehat dan produktif,” ujar Yuniar.

Festival tersebut diikuti sekitar 3.500 peserta, termasuk santri Pesantren Ngalah dan sejumlah pesantren di Kabupaten Pasuruan. Kegiatan diisi talkshow serta pameran edukasi mengenai nutrisi, hidrasi sehat, dan pengelolaan sumber daya air berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan juga diisi pengukuhan Duta Santri BESTARI atau Bersih, Sehat, Tangguh, dan Mandiri. Para santri yang dikukuhkan diharapkan menjadi penggerak penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan pesantren.

Ketua Dewan Pesantren Pasuruan KH Tantowie Abdullah Siradj mengatakan kolaborasi berbagai pihak diperlukan agar pengembangan pesantren tidak hanya berorientasi pada pendidikan, tetapi juga memperhatikan lingkungan yang sehat dan mandiri.

“Sebagai wadah yang menghimpun pesantren di Kabupaten Pasuruan, kami terus mendorong kemitraan yang produktif antara pesantren, pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Pasuruan K.H. Muhammad Shobih Asrori mengapresiasi pelaksanaan festival tersebut. Menurutnya, pemenuhan fasilitas air bersih menjadi kebutuhan penting dalam menunjang aktivitas pendidikan dan kehidupan sehari-hari di pesantren.

“Kami berharap langkah ini dapat menciptakan santri-santri yang tangguh, santri yang hebat, yang kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan,” ujar Shobih.

Shobih menegaskan pemerintah daerah bersama pesantren dan berbagai pihak perlu terus memperkuat kolaborasi agar kebutuhan air bersih dan sanitasi dapat dipenuhi secara berkelanjutan. (shl)