JATIMPOS.CO//SURABAYA – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan sejumlah kendala dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan pegunungan Jawa Timur. Medan yang curam dan titik api yang sulit dijangkau menjadi tantangan utama petugas.

Emil mengatakan, penanganan karhutla di wilayah tersebut membutuhkan strategi yang menyesuaikan kondisi medan. Salah satunya melalui patroli dan pembuatan sekat bakar untuk mencegah api meluas ke kawasan lain maupun permukiman warga.

“Kata kuncinya adalah patroli. Ada lokasi kebakaran yang bisa dijangkau dan ada yang tidak bisa dijangkau. Yang tidak bisa dijangkau, fokus kita adalah antisipasi dengan membuat sekat bakar agar api tidak melebar ke pemukiman warga maupun memperluas area kebakaran,” ujar Emil saat ditemui di Gedung DPRD Jatim, Surabaya, Senin (19/10/2026).

Berdasarkan pemetaan titik api sejak Agustus hingga saat ini, sebanyak 79 persen berada di kawasan konservasi, 14 persen di wilayah Perum Perhutani, dan 7 persen di Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Sejumlah kawasan yang terdampak karhutla meliputi Gunung Bromo di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Gunung Arjuno, Gunung Ringgit di Situbondo, Gunung Argopuro, hingga Pusung Lingker di Probolinggo. Sementara itu, BMKG Juanda mencatat wilayah dengan tingkat kewaspadaan tinggi meliputi Probolinggo, Mojokerto, Bondowoso, Jember, dan Pasuruan.

Untuk menangani kebakaran di kawasan tersebut, Pemprov Jatim mengerahkan personel gabungan. Sebanyak 53 anggota Manggala Agni Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur disiagakan bersama polisi hutan dan relawan terlatih untuk melakukan pemadaman serta penyekatan api.

“Kombinasi antara Polisi Hutan, Manggala Agni, dan relawan terlatih bahu-membahu melakukan pemadaman serta penyekatan. Namun, saya tegaskan kata kuncinya: keselamatan petugas adalah prioritas nomor satu, tidak boleh ada petugas yang menjadi korban,” tegas Emil.

Terkait dukungan pemadaman melalui udara atau water bombing, Emil mengakui alokasi armada udara nasional masih difokuskan pada penanganan karhutla di Kalimantan dan Sumatera. Meski demikian, Pemprov Jatim terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengupayakan dukungan armada udara apabila kondisi di lapangan membutuhkan penanganan tersebut.

Sebelumnya, insiden karhutla di kawasan TNBTS dan Probolinggo dilaporkan telah menelan empat korban jiwa dari unsur petugas saat proses pemadaman. Selain itu, beberapa orang mengalami luka bakar serius dan harus mendapatkan perawatan medis.

Emil menyebut dua korban luka bakar masih menjalani penanganan medis intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya. Pemantauan terhadap perkembangan kondisi korban terus dilakukan.

“Dua korban kondisinya masih sangat kritis di RSUD Dr. Soetomo. Setiap hari kami terus memantau update perkembangan medisnya karena luka bakarnya cukup serius. Pemantauan dan perawatan intensif di ICU terus dilakukan oleh tim dokter, mari kita doakan yang terbaik untuk kesembuhan mereka,” pungkas Emil. (zen)