JATIMPOS.CO//KOTA PASURUAN - Perum Bulog Kantor Cabang (Kanca) Malang menyalurkan 20 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke sejumlah pasar di Kota Pasuruan, Kamis (10/9/2026). Penyaluran dilakukan untuk menjaga ketersediaan beras medium di tengah kenaikan harga beras premium.
Pimpinan Perum Bulog Kanca Malang Muhammad Nurjuliansyah Rahman mengatakan, penyaluran dilakukan secara bertahap pada pekan ini. Sebagian pasokan disalurkan Kamis, sedangkan sisanya dijadwalkan pada Jumat.
“Dalam minggu ini ada 20 ton. Hari ini dan Jumat kita bagi dua,” kata Nurjuliansyah.
Distribusi SPHP menyasar sejumlah pedagang dan toko di Pasar Gadingrejo, Pasar Karangketug, Pasar Besar, dan Pasar Kebonagung. Setiap pedagang menerima pasokan berbeda, mulai 500 kilogram hingga 1.000 kilogram.
Menurut Nurjuliansyah, tambahan pasokan tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap memiliki pilihan beras dengan harga terjangkau. Langkah itu sekaligus merespons kondisi harga beras premium yang mengalami kenaikan.
Bulog memastikan stok SPHP masih tersedia. Nurjuliansyah membantah informasi yang menyebut beras SPHP mengalami kelangkaan di pasar.
“Kami sudah perintahkan untuk gelontorkan beras SPHP ke beberapa pasar. Jadi kalau ada isu beras SPHP langka, itu hanya isu. Tidak ada kelangkaan, stoknya ada dan kami terus salurkan ke pasar,” tegasnya.
Pedagang di Pasar Kebonagung turut menyebut SPHP menjadi salah satu pilihan konsumen. Pemilik Toko Sunarti mengatakan masyarakat membutuhkan pasokan yang konsisten agar tidak kesulitan memperoleh beras dengan harga lebih terjangkau.
“Dengan adanya SPHP, masyarakat punya pilihan beras dengan harga yang lebih terjangkau. Yang penting pasokannya terus ada sehingga pembeli tidak kesulitan mendapatkannya,” ujar Sunarti.
Beras SPHP merupakan beras kualitas medium yang penjualannya mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET) pemerintah. Nurjuliansyah menyebut HET beras SPHP maksimal Rp12.500 per kilogram.
“HET beras SPHP maksimal Rp12.500,” tegasnya.
Ia mengatakan beras medium dapat menjadi alternatif bagi konsumen ketika harga beras premium meningkat. Dengan pilihan tersebut, masyarakat dapat menyesuaikan pembelian berdasarkan kebutuhan dan kemampuan.
“Seharusnya dengan permintaan premium yang tinggi, dengan ada pilihan beras medium, itu harusnya efektif. Tinggal pilihan dari konsumen sendiri, mau beli yang premium atau medium,” ungkap Nurjuliansyah.
Di sisi lain, Bulog tengah mempersiapkan kemasan baru untuk beras SPHP. Penggunaannya belum dapat dilakukan karena proses lelang dan produksi kemasan masih berlangsung.
“Untuk kemasan baru SPHP mungkin diperkirakan baru bisa running tahun depan atau lebih cepat akhir tahun ini, karena masih proses lelang dan produksi kemasannya,” jelasnya.
Kemasan lama SPHP berwarna hijau-kuning tetap digunakan sampai persediaannya habis. “Selain itu juga kemasan SPHP yang lama, warna hijau-kuning, perlu dihabiskan stoknya,” lanjut Nurjuliansyah.
Bulog juga menyiapkan opsi operasi pasar apabila perkembangan harga beras membutuhkan intervensi lebih lanjut. Upaya tersebut akan dikoordinasikan bersama pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
“Ini menjadi opsi kami bersama pemerintah di TPID untuk bisa menekan harga-harga sembako, khususnya beras,” kata Nurjuliansyah.
Pedagang berharap pasokan SPHP dapat berlangsung secara berkelanjutan sehingga masyarakat memiliki alternatif ketika harga beras premium naik. “Yang penting pasokannya terus ada,” ujar Sunarti.
Bulog memastikan penyaluran SPHP di wilayah Pasuruan terus diperkuat untuk menjaga ketersediaan beras medium sekaligus mendukung stabilitas pasokan dan harga pangan. (sahal)