JATIMPOS.CO/KOTA MADIUN — Lantunan doa menyelimuti kompleks Makam Kuno Kuncen dan Taman, Kota Madiun, Jumat (19/6/2026). Menjelang peringatan Hari Jadi Kota Madiun ke-108, Pemerintah Kota Madiun kembali menggelar tradisi ziarah ke makam para leluhur dan tokoh pendiri kota.

Di tengah suasana yang khidmat, Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun hadir bersama jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD), Ketua DPRD Kota Madiun, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), hingga para tokoh ulama. Mereka berjalan beriringan, memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah meletakkan fondasi berdirinya Kota Madiun.

Tradisi ziarah ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang refleksi untuk mengenang perjuangan para leluhur sekaligus menguatkan ikatan sejarah di tengah perkembangan kota yang terus bergerak maju.

Rute ziarah dimulai dari Makam Kuno Kuncen di Kelurahan Kuncen, Kecamatan Taman. Kompleks makam yang berdampingan dengan Masjid Nur Hidayatullah itu menjadi tempat peristirahatan Bupati Madiun pertama, Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno atau Pangeran Timur, beserta para penerusnya. Di area itu pula terdapat petilasan dan makam Raden Mas Bagus Petak atau Mangkugoro I.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Makam Kuno Taman, yang menjadi tempat persemayaman 11 Bupati Madiun beserta keluarganya. Kompleks makam ini menyimpan jejak panjang sejarah perkembangan kerajaan Islam di Jawa, mulai era Demak, Pajang, hingga Mataram.

Bagi warga Madiun, dua lokasi ini bukan hanya situs pemakaman, tetapi juga ruang belajar sejarah dan wisata religi yang terus hidup. Setiap tahun, makam-makam kuno tersebut menjadi tujuan masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat akar sejarah kota.

Plt Wali Kota Madiun, F Bagus Panuntun, mengatakan ziarah makam merupakan agenda rutin yang dilaksanakan sehari sebelum peringatan hari jadi Kota Madiun. Menurut dia, kegiatan itu menjadi wujud penghormatan sekaligus doa untuk para pendahulu yang telah berjuang membangun kota.

“Selain menghormati dan mendoakan para pendahulu, kami juga memohon agar Kota Madiun senantiasa diberikan keberkahan oleh Allah SWT,” ujarnya.

Bagus Panuntun menambahkan, keberadaan makam pendiri Kota Madiun di Kuncen dan Taman yang kini telah dikembangkan sebagai destinasi wisata religi diharapkan mampu menjadi jembatan pengenalan sejarah bagi generasi muda.

“Harapannya, anak-anak muda bisa mengenal sejarah Kota Madiun melalui kunjungan ke tempat-tempat ini. Sebab, kota yang besar adalah kota yang tidak melupakan akar sejarahnya,” kata Bagus Panuntun.

Di tengah gegap gempita perayaan ulang tahun kota, tradisi ziarah ini menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang Kota Madiun hari ini berdiri di atas jasa dan perjuangan para leluhur yang telah lebih dulu menanamkan pondasinya.(jum).