JATIMPOS.CO/SURABAYA – Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi Gerindra, Cahyo Harjo Prakoso, mendorong adanya penyempurnaan standar operasional prosedur (SOP) dalam pembagian menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar disesuaikan dengan kelompok usia anak.
Usulan tersebut muncul setelah menerima aspirasi dari perwakilan guru taman kanak-kanak (TK) saat menggelar reses di Jalan Pucangan IX No. 14, Kelurahan Kertajaya, Kecamatan Gubeng, Surabaya, Selasa (28/7/2026).
Dalam dialog tersebut, perwakilan guru TK mengeluhkan menu MBG untuk anak usia dini dinilai belum sepenuhnya sesuai. Salah satunya, anak TK pernah menerima menu ikan mujair yang masih memiliki banyak duri sehingga menyulitkan mereka saat mengonsumsinya.
Menanggapi hal itu, Cahyo mengatakan Program MBG merupakan kebijakan yang sangat baik sebagai investasi bagi masa depan anak-anak. Namun, menurutnya, pelaksanaan program tersebut tetap perlu dievaluasi agar manfaatnya semakin optimal.
"Hari ini kami mendengar banyak masukan dan aspirasi dari masyarakat, yang salah satunya memandang bahwa program MBG ini adalah program yang sangat baik bagi kepentingan investasi masa depan anak-anak kita," ujarnya.
Ia menilai kualitas menu, pengemasan, hingga ketepatan waktu distribusi MBG sudah berjalan dengan baik. Meski demikian, masih diperlukan penyempurnaan dalam pengaturan porsi dan jenis makanan berdasarkan usia penerima manfaat.
"Menunya sudah bagus, pelaksanaannya dan packaging-nya sudah bagus, serta pelaksanaannya tepat waktu. Namun, perlu ada SOP baru terkait pemilahan antara balita, anak kecil, dan anak dewasa," katanya.
Menurut Cahyo, berdasarkan ketentuan yang berlaku saat ini, pembagian porsi masih dibedakan secara umum, yakni porsi kecil untuk balita hingga siswa kelas 2 SD dan porsi dewasa untuk siswa kelas 3 SD hingga SMA.
Ia menilai pengelompokan tersebut masih perlu dievaluasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan anak di setiap jenjang usia.
"Aspirasi ini akan kami sampaikan kepada Badan Gizi Nasional maupun koordinator wilayah di Kota Surabaya dan Provinsi Jawa Timur agar menjadi bahan evaluasi. Termasuk juga kepada pihak SPPG yang memberikan pelayanan di wilayah ini," ungkapnya.
Ia berharap evaluasi tersebut dapat semakin menyempurnakan pelaksanaan Program MBG sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh anak-anak sebagai penerima program.
"Agar program yang penuh manfaat dan kebaikan ini betul-betul berdampak optimal untuk pertumbuhan dan peningkatan gizi anak-anak kita," pungkasnya.
Selain persoalan MBG, Cahyo juga menerima sejumlah aspirasi lainnya dari masyarakat. Di antaranya keluhan terkait data bantuan sosial yang dinilai masih belum tepat sasaran, persoalan program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), hingga harapan adanya penguatan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).(zen)