JATIMPOS. CO/BONDOWOSO. Komisi IV DPRD Bondowoso mendorong perluasan screening, tracing, dan tracking HIV/AIDS hingga menyasar aparatur sipil negara (ASN) dan lingkungan pondok pesantren. Dorongan ini muncul menyusul bertambahnya 155 kasus baru HIV/AIDS sepanjang tahun 2025 di Kabupaten Bondowoso.

Data Pokja TB-HIV dan Dinas Kesehatan mencatat, dengan penambahan tersebut, total orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Bondowoso kini mencapai 1.483 orang. Data ini dipaparkan dalam kunjungan kerja Komisi IV DPRD ke Dinas Kesehatan, Kamis (15/1/2026).

Sekretaris Komisi IV DPRD Bondowoso, Abdul Majid, mengatakan saat ini fokus pembahasan bukan lagi soal keterbatasan anggaran, melainkan strategi konkret menghadapi penurunan dukungan anggaran untuk penanganan HIV/AIDS.

" Bukan lagi bicara anggarannya kecil, tapi bagaimana strategi menghadapi kondisi ini. Salah satunya dengan memperkuat screening dan sosialisasi," ujarnya.

Komisi IV mendorong screening TB-HIV di lingkungan ASN Pemkab Bondowoso sebagai bentuk tanggung jawab dan keteladanan. Selain itu, pondok pesantren juga dinilai perlu menjadi perhatian serius dalam upaya pencegahan.

" Pesantren harus kita jaga dan kita amankan, bagaimana para santri terbebas dari penyakit yang diindikasi berbahaya," tegas Majid.

Sementara menurut Ketua Pokja TB-HIV Kabupaten Bondowoso, Funky Indraayu Shanti, memaparkan dari 155 kasus baru tersebut, terdapat 4 anak usia di bawah 4 tahun, 5 remaja usia 15–19 tahun, 14 orang usia 20–24 tahun, serta 106 orang usia produktif 25–49 tahun. Sementara 26 orang berusia di atas 50 tahun juga tercatat positif HIV/AIDS.

Funky menjelaskan, kasus HIV pada balita terjadi karena penularan dari ibu. Padahal, anak yang lahir dari ibu ODHA bisa tetap negatif jika sejak awal menjalani terapi ARV secara rutin.

" Bisa jadi karena baru tahu, tidak rutin minum obat, atau putus obat," jelasnya.

Sementara pada kelompok remaja, Funky menyebut penularan banyak dipengaruhi perilaku berisiko, termasuk fenomena lelaki seks lelaki (LSL) yang kian marak.

Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Bondowoso, Goek Fitri Purwandari, menegaskan pihaknya bersama Pokja TB-HIV terus melakukan langkah preventif melalui tracing, tracking, dan sosialisasi. 

" Saat ini, terdapat 12 fasilitas kesehatan di Bondowoso yang melayani ODHA untuk mendapatkan obat ARV secara gratis sesuai SO, " Ungkapnya.

Namun demikian, Wakil Ketua DPRD Bondowoso, Sinung Sudrajat, menilai keseriusan penanganan HIV/AIDS perlu ditingkatkan, terutama di tengah anggaran yang dinilai sangat tidak memadai.

" Dari sisi anggaran sangat tidak layak. Keseriusan Dinas Kesehatan wajib lebih ditingkatkan lagi ke depan," pungkasnya.(Eko)