JATIMPOS.CO/LAMONGAN – Guna menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di jam-jam rawan serta mencegah potensi konflik sosial, jajaran Polsek Sarirejo, Polres Lamongan, melaksanakan kegiatan Patroli Blue Light di wilayah hukum Kecamatan Sarirejo, Kabupaten Lamongan, pada Minggu malam (9/8/2026). Patroli dimulai pukul 23.00 WIB dan berlangsung hingga selesai.

JATIMPOS.CO/KOTA PASURUAN – Sebanyak 74 pelajar putra putri terbaik tingkat SMA/sederajat di Kota Pasuruan resmi memasuki masa pemusatan pendidikan dan pelatihan (diklat) Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 2026. Tahapan awal ditandai dengan Upacara Tradisi Tantingan yang berlangsung di Markas Yonzipur 10/JP, Kamis (6/8/2026).

JATIMPOS.CO/TRENGGALEK – Sinergitas TNI, Polri, dan Pemerintah Kabupaten Trenggalek kembali ditunjukkan melalui pengamanan kegiatan kesenian tiban dalam rangka bersih desa sekaligus peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pengamanan dilakukan personel Koramil 0806-08/Karangan bersama Polsek Karangan di Lapangan Desa Kerjo, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, Rabu (5/8/2026).

JATIMPOS.CO/JOMBANG - Semangat memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menggema di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Sebanyak 162 peserta ambil bagian dalam Gerak Jalan Ngoro Jombang (ROJO) 2026 yang diberangkatkan dari Pusdiklat Pramuka, Jalan Kandangan, Kecamatan Ngoro, Sabtu (8/8/2026) siang.

Yang menarik, peserta tidak hanya berasal dari kalangan muda. Seorang peserta kategori perorangan yang diketahui merupakan lansia kelahiran 1955 turut ambil bagian. Usianya tak menyurutkan semangat untuk berjalan bersama peserta lainnya dalam memeriahkan momentum kemerdekaan.

Gerak Jalan ROJO 2026 diikuti peserta dari berbagai kategori. Terdiri dari kategori kehormatan sebanyak 22 regu, beregu putra 50 regu, beregu putri 16 regu, perorangan putra 60 peserta, serta perorangan putri 14 peserta.

Suasana kegiatan semakin semarak dengan hadirnya jajaran pimpinan daerah. Bupati Jombang Warsubi, bersama Ketua Tim Penggerak PKK Yuliati Nugrahani Warsubi, Wakil Bupati Jombang Salmanudin Yazid beserta Ning Ema Erfina, Sekdakab Jombang Agus Purnomo beserta Ketua DWP Jombang Lilik Agus Purnomo, Ketua DPRD Jombang Hadi Atmaji, serta sejumlah kepala OPD turut hadir.

Bupati Warsubi secara resmi memberangkatkan peserta Gerak Jalan ROJO 2026 dengan mengibarkan bendera start.

Dalam sambutannya, Warsubi mengatakan Gerak Jalan ROJO telah menjadi salah satu agenda rutin Pemkab Jombang dalam memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang olahraga maupun perlombaan. Lebih dari itu, gerak jalan menjadi sarana membangun kedisiplinan, mempererat kebersamaan, melatih kekompakan sekaligus menumbuhkan semangat kebangsaan.

“Gerak Jalan ROJO ini menjadi agenda rutin Pemerintah Kabupaten Jombang setiap peringatan Hari Kemerdekaan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan, mempererat kebersamaan, melatih kekompakan, dan menumbuhkan semangat kebangsaan,” ujar Warsubi.

Bupati Jombang Warsubi, bersama Ketua Tim Penggerak PKK Yuliati Nugrahani Warsubi, Wakil Bupati Jombang Salmanudin Yazid beserta Ning Ema Erfina, Sekdakab Jombang Agus Purnomo beserta Ketua DWP Jombang Lilik Agus Purnomo, Ketua DPRD Jombang Hadi Atmaji turut ikut langsung gerak jalan

Ia berharap semangat para peserta dapat mencerminkan nilai perjuangan para pendahulu bangsa. Pantang menyerah, disiplin dan kemauan untuk berjuang bersama, menurutnya, merupakan nilai penting yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Warsubi juga mengajak peserta menjadikan setiap langkah dalam Gerak Jalan ROJO sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

“Saya berpesan kepada seluruh peserta, ikuti lomba ini dengan penuh semangat, sportif, hormati sesama peserta, dan patuhi seluruh ketentuan yang telah ditetapkan panitia. Tunjukkan disiplin, kekompakan, dan daya juang terbaik dari regu masing-masing,” pesannya.

Ia menekankan bahwa kekompakan menjadi salah satu kunci untuk mencapai hasil terbaik. Setiap regu diminta mampu menjaga irama langkah, saling mendukung dan mempertahankan semangat hingga garis finish.

“Tidak ada regu yang berhasil tanpa kerja sama. Karena itu, saling dukung, saling menguatkan, dan tunjukkan sportivitas serta kerja sama terbaik,” lanjutnya.

Selain kekompakan, Bupati juga mengingatkan peserta agar tidak mengabaikan faktor kesehatan dan keselamatan. Hal tersebut penting mengingat rute gerak jalan menggunakan jalan raya.

Peserta diminta menjaga ketertiban serta mengikuti arahan panitia dan petugas agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan lancar.

“Selamat berlomba kepada seluruh peserta. Semoga seluruh peserta dapat menyelesaikan rute hingga garis finis dengan selamat dan memberikan penampilan terbaik bagi sekolah maupun regu masing-masing,” ujar Warsubi.

Usai memberangkatkan peserta, Warsubi bersama jajaran pejabat yang hadir turut berjalan menyusuri sebagian rute Gerak Jalan ROJO 2026.

Bupati dan Wakil Bupati juga menyempatkan diri menyapa warga yang memadati sejumlah titik untuk menyaksikan kemeriahan gerak jalan tersebut.

Semarak ROJO 2026 pun menjadi salah satu gambaran bahwa perayaan kemerdekaan di Jombang bukan sekadar seremoni. Dari generasi muda hingga peserta lanjut usia, semangat untuk bergerak bersama dan merawat nilai kebersamaan tetap menjadi bagian penting dalam merayakan kemerdekaan. (her)

JATIMPOS.CO/KOTA PASURUAN – Halaman SD Negeri Randusari, Kota Pasuruan, Sabtu (8/8/2026), berubah menjadi ruang belajar membatik. Ratusan wali murid kelas 1, 2, dan 3 tampak antusias membuat kain yang nantinya digunakan sebagai seragam batik sekolah anak mereka.

Slamet Widodo menyalakan harapan baru di kampung halamannya, Desa Trutup, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban. Sejak menjabat kepala desa, ia mengembangkan dukungan program EMCL menjadi solusi perlindungan sosial bagi masyarakat. Ribuan warganya kini terlindungi BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, tanpa pungutan biaya.

 

JATIMPOS.CO/TUBAN - Kantor Desa Trutup tampak kusam. Catnya memudar, sebagian lantai granitnya ambles dan pecah. "Sejak menjabat tujuh tahun lalu, balai desa tidak pernah saya cat," kata Slamet Widodo. Ada alasan di balik pilihannya menunda mempercantik kantor desa itu. Selama bertahun-tahun, ia lebih sering memikirkan warga yang kehilangan penghasilan akibat kecelakaan, keluarga yang kesulitan membayar biaya pengobatan, atau anak-anak yang mendadak kehilangan penopang hidup. Dari pengalaman itulah lahir sebuah keputusan yang kemudian mengubah arah kebijakan Desa Trutup. 

Pria kelahiran 40 tahun lalu itu sadar, bantuan yang datang sesekali tak akan pernah cukup. Yang dibutuhkan adalah sistem perlindungan. Gagasan itu kemudian dibawa ke musyawarah desa pada Maret lalu. Di forum yang dihadiri perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), lembaga desa, hingga tokoh masyarakat, mantan guru itu mengajukan usul yang tidak lazim bagi ukuran sebuah desa yang baru tumbuh pendapatannya: mengalokasikan sebagian APBDes yang tahun lalu tembus Rp 734 juta untuk membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan warga. 

Desa Trutup yang memiliki 1.080 kepala keluarga dinilainya membutuhkan sistem perlindungan yang lebih permanen, bukan sekadar bantuan sesaat ketika musibah datang. Usulan itu diterima! 

Mulai April 2026, sebanyak 650 kepala keluarga didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan. Mereka yang dinilai rentan mengalami kecelakaan mendapat perlindungan dengan iuran Rp 16.800 setiap bulan dibayar pemerintah desa. 

Manfaatnya bahkan datang lebih cepat daripada yang diperkirakan. Baru dua bulan program berjalan, dua warga meninggal dunia. Keluarganya langsung menerima santunan biaya pemakaman sebesar Rp 10 juta.

Perlindungan itu juga membuka akses terhadap santunan kematian, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, hingga beasiswa pendidikan bagi anak apabila peserta meninggal akibat kecelakaan kerja.

Dengan manfaat nyata tersebut, tak salah kalau musyawarah desa juga menyepakati ke depan pendapatan desa akan menutup iuran BPJS Ketenagakerjaan seluruh warga yang berusia 17-65 tahun. Perlindungan sosial terhadap warga benar-benar menguras APBDes Trutup dibanding program sosial sebelumnya yang juga digulirkan ayah dari tiga putri dan dua putra itu. 

Mulai santunan kematian Rp 300 ribu, menanggung biaya listrik dan air bersih masjid, serta membiayai air bersih untuk 23 musala dan 2 sekolah. Juga membangun dua unit rumah tak layak huni (RTLH) dan jalan makadam sepanjang 250 meter. ‘’Satu tahun dapat, satu tahun harus habis,’’ kata Slamet ketika ditanya perkiraan sisa lebih perhitungan anggaran (Silpa) APBDes Trutup 2025. 

Bagi warga Trutup, tentu itu bukan sekadar uang. Itu adalah bukti bahwa pemerintah desa hadir ketika warga mengalami keputusasaan ketika menghadapi musibah.

Bantuan sarana dan prasarana dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) menjadi titik awal perubahan di desa jalur pipa minyak Banyu Urip, Blok Cepu itu. Pada 2021, EMCL bersama warga membangun jaringan pipa irigasi sepanjang 235 meter. Dua tahun berikutnya, bantuan berlanjut melalui pembangunan dua sumur bor untuk Himpunan Petani Pemakai Air (Hippa). Kemudian disusul pembangunan kantor Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (Hippam).

Infrastruktur itu menjadi fondasi kuat tumbuhnya dua unit usaha desa: Hippa dan Hippam. Di sinilah kepemimpinan Slamet diuji. Ia bersama timnya tidak hanya membangun instalasi air, namun juga membangun kepercayaan warga. Dulu, sebagian besar petani desa yang berjarak sekitar 22 km dari pusat kabupaten itu mengandalkan jaringan irigasi usaha perorangan dengan memanfaatkan aliran Bengawan Solo.

 

Kepala Desa dan seluruh jajaran perangkat desa Trutup berterima kasih kepada EMCL- SKK Migas dan berkomitmen bersama warganya untuk terus menjaga keamanan dan keselamatan jalur pipa minyak Banyu Urip, Blok Cepu.


 

Kini, sekitar 95 hektare sawah dilayani enam sumur bor yang dikelola Hippa dengan sekitar 300 petani sebagai anggota. Hanya sekitar 70 hektare lahan yang masih bertahan dengan aliran irigasi yang dikelola perorangan. "Dari Hippa, pendapatan tahun lalu mencapai Rp 535 juta," kata pria yang pernah menjadi guru honor selama 15 tahun di SDN Sumberagung 1, Kecamatan Plumpang itu.

Kepercayaan petani tumbuh bukan hanya karena keuntungan usaha yang kembali ke desa. Biaya layanan irigasi yang relatif murah, hanya Rp 2 ribu per meter kubik, menjadikan mereka tertarik. 

Slamet menyampaikan, kunci dari murahnya biaya layanan itu adalah efisiensi. Instalasi listrik untuk sumur bor Hippa dan Hippam dirancang menggunakan satu jaringan. Perawatan pun dilakukan sendiri dengan tenaga pengelola. 

Hippam tak kalah berkembang. Unit usaha penyedia air bersih itu kini melayani 396 sambungan rumah dengan pendapatan tahun lalu tembus Rp 199 juta.

Dimulai dari keresahan kepala desa, lahir sebuah kesadaran di Trutup: pembangunan desa tidak selalu dimulai dari kantor desa yang megah. Kadang, ia bermula dari keberanian mengubah arah anggaran. Agar ketika musibah mengetuk pintu rumah berikutnya, yang datang lebih dulu bukan keputusasaan, melainkan perlindungan. (ril/min)