JATIMPOS.CO/SURABAYA – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya memperkuat sinergi dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait keamanan obat dan makanan.

Kolaborasi tersebut dikemas dalam kegiatan Media Gathering bertema "Sinergi Cerdas BPOM dan PWI: Dari Pewartaan Menggugah, Mewujudkan Obat dan Makanan Aman, Bermutu dan Berdaya Saing" di Aula Gandrung Banyuwangi, BBPOM Surabaya, Kamis (6/8/2026).

Dalam rangkaian kegiatan itu, BBPOM Surabaya juga memusnahkan 97.676 tablet obat ilegal yang mengandung Trihexyphenidyl dan Tramadol sebagai upaya mencegah penyalahgunaan serta memutus mata rantai peredarannya.

Ketua PWI Jawa Timur Lutfil Hakim mengatakan media memiliki peran strategis dalam mendukung pengawasan obat dan makanan. Menurutnya, jurnalis tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga harus berpihak pada keselamatan masyarakat sebagai konsumen.

"Kita bukan sekadar sebagai jurnalis yang menyampaikan berita saja. Tapi harus ada keberpihakan bagi jurnalis. Itu amanat undang-undang. Karena ini terkait keselamatan konsumen, maka harus ada keberpihakan terhadap keselamatan konsumen," kata Lutfil.

Ia menilai BPOM merupakan salah satu lembaga pemerintah yang konsisten membangun komunikasi publik melalui keterbukaan informasi. Karena itu, sinergi dengan media perlu terus diperkuat agar masyarakat memperoleh edukasi yang benar mengenai obat dan makanan.

"Begitu instansi mengundang wartawan, itu berarti sudah membuka pintu bahwa informasi di situ bisa digali. Ini membuktikan BPOM adalah institusi yang sangat berorientasi pada keterbukaan informasi," ujarnya.

Lutfil menambahkan, perkembangan teknologi informasi dan maraknya perdagangan melalui marketplace membuat tantangan pengawasan semakin besar. Dalam kondisi tersebut, media diharapkan menjadi information bridge atau jembatan informasi antara BPOM dan masyarakat.

"Kalau dijumpai ada indikasi di lapangan, cepat dimuat supaya BPOM tahu. Dan kalau misalnya BPOM tahu tetapi belum ada tindak lanjut, tulis juga. Karena itu bagian dari menyelamatkan masyarakat sebagai konsumen," tegasnya.

Sementara itu, Kepala BBPOM di Surabaya Yudi Noviandi menyambut baik dukungan PWI Jatim. Menurutnya, tanpa media berbagai upaya pengawasan dan edukasi yang dilakukan BPOM tidak akan tersampaikan secara optimal kepada masyarakat.

"Tanpa kehadiran pers, apa yang dikerjakan dan dilaksanakan itu tidak akan bermakna. Kemudian juga tanpa kehadiran pers, banyak isu yang terjadi di masyarakat tidak bisa kami tangani," ujar Yudi.

Ia berharap kegiatan tersebut menjadi awal terbangunnya komunikasi yang lebih erat antara BPOM dan insan pers sehingga setiap persoalan terkait obat dan makanan dapat direspons lebih cepat.

"Dengan saling kenal, harapannya komunikasi lebih lancar. Kalau ada isu, kita bisa respons lebih awal. Harapan kami, kita bisa mengawal obat dan makanan yang aman, bermutu, dan berdaya saing melalui pemberitaan yang menggugah," pungkasnya. (zen)