JATIMPOS.CO/SURABAYA – Wakil Ketua Bidang Kaderisasi dan Ideologi DPC PDI Perjuangan Surabaya, Eko Wahyono, menilai stigma yang menyebut generasi Z sebagai generasi apolitis, apatis, dan individualistis tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas di lapangan. Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam berbagai gerakan sosial menunjukkan adanya kepedulian terhadap persoalan kebangsaan.

Eko mengatakan, berbagai aksi demonstrasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari gerakan Reformasi Dikorupsi, Gejayan Memanggil, hingga sejumlah aksi mahasiswa lainnya, menunjukkan bahwa generasi Z memiliki perhatian terhadap isu-isu publik.

“Generasi Z tidaklah apolitis, apatis, bahkan individualis, melainkan merupakan generasi yang gerakannya berbasis pada akurasi isu dan data,” ujar pria yang akrab disapa Cak Ek, Jumat (26/06/2026).

Menurut Eko, gerakan yang lahir dari keresahan terhadap berbagai kebijakan pemerintah tersebut sebagian besar digerakkan oleh organisasi kemahasiswaan yang didominasi generasi Z. Karakter perjuangan yang berbasis isu tersebut, kata dia, memiliki kesamaan dengan pola perjuangan Soekarno muda yang dikenal aktif memperjuangkan berbagai persoalan rakyat.

“Karakteristik yang dimiliki oleh kebanyakan generasi Z memiliki kesamaan dengan perilaku Soekarno muda yang memang karier politik dan pergerakannya bersifat issue-driven, atau berfokus pada isu serta kebijakan,” katanya.

Berangkat dari kesamaan karakter tersebut, Eko menilai tantangan saat ini bukan terletak pada relevansi Marhaenisme, melainkan pada bagaimana nilai-nilai tersebut dapat dipahami oleh generasi yang lahir dan tumbuh di era digital.

Ia menilai pembahasan mengenai Marhaenisme selama ini masih sering terfokus pada romantisme sosok Soekarno sehingga kurang dekat dengan realitas kehidupan generasi muda saat ini.

“Sudah menjadi tugas kita bersama, orang-orang yang berada dalam barisan generasi Milenial bahkan Boomer untuk melakukan redefinisi strategi agar pemikiran bapak pendiri bangsa seperti Soekarno selalu relevan bagi generasi Z dan generasi-generasi berikutnya,” katanya.

Aktivis GMNI tersebut menawarkan tiga pendekatan untuk membumikan Marhaenisme di kalangan generasi muda. Pertama, menghubungkan nilai-nilai Marhaenisme dengan isu-isu kontemporer yang dekat dengan kehidupan generasi Z, seperti kesejahteraan pekerja ekonomi digital, termasuk pengemudi ojek online.

Menurutnya, kelompok pekerja tersebut dapat menjadi contoh masyarakat yang memiliki alat produksi sendiri, namun masih menghadapi berbagai tantangan dalam sistem ekonomi modern.

Pendekatan kedua, lanjut Eko, adalah menyesuaikan metode penyampaian gagasan ideologis dengan karakter generasi digital. Ia menilai penyampaian melalui pidato panjang maupun kuliah satu arah sudah tidak lagi efektif menjangkau generasi muda.

Sebaliknya, penyampaian nilai-nilai ideologi perlu memanfaatkan platform digital, menggunakan bahasa yang lebih dekat dengan keseharian anak muda, serta didukung penyajian visual yang menarik tanpa mengurangi substansi pemikiran.

Selain itu, alumnus Universitas Airlangga tersebut juga mendorong metode kaderisasi yang lebih partisipatif melalui diskusi kelompok, lokakarya, kegiatan gotong royong, maupun advokasi masyarakat.

Menurutnya, pendekatan berbasis pengalaman akan lebih mudah diterima oleh generasi Z dibandingkan metode pembelajaran yang bersifat satu arah.

“Melalui pembumian gagasan ideologi Marhaenisme terhadap generasi Z, hal tersebut berimplikasi bahwa ideologi haruslah menjadi alat bedah analisis, bukan hanya sekadar menjadi rapalan mantra belaka,” tegasnya.(zen)