JATIMPOS.CO//KOTA PASURUAN – Gastroenteritis dan kolitis tidak spesifik menjadi diagnosis terbanyak dalam pelayanan rawat inap RSUD dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan selama Agustus 2026.

Berdasarkan data 10 besar penyakit rawat inap rumah sakit tersebut, gastroenteritis dan kolitis tidak spesifik tercatat sebanyak 83 kasus. Jumlah itu menjadi yang tertinggi dibandingkan diagnosis lainnya selama periode tersebut.

Infark serebral tidak spesifik berada di urutan berikutnya dengan 38 kasus, disusul kekurangan volume cairan sebanyak 37 kasus. Sementara itu, infeksi saluran pernapasan akut tidak spesifik tercatat sebanyak 36 kasus.

Gastroenteritis merupakan gangguan pada saluran pencernaan yang dapat ditandai dengan diare, muntah, nyeri perut, dan kondisi tubuh melemah. Kehilangan cairan akibat kondisi tersebut dapat menyebabkan dehidrasi.

Kekurangan volume cairan juga masuk dalam daftar diagnosis terbanyak. Kondisi ini dapat berkaitan dengan kehilangan cairan, antara lain akibat diare, muntah, demam, maupun kurangnya asupan cairan.

Sementara itu, infark serebral merupakan kondisi yang berkaitan dengan terganggunya aliran darah ke otak dan membutuhkan penanganan medis. Gejalanya dapat berupa kelemahan atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh, gangguan bicara, gangguan penglihatan, hingga penurunan kesadaran.

Direktur RSUD dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan dr. Adi Widianto, M.H., mengatakan data penyakit rawat inap menjadi salah satu bahan evaluasi rumah sakit dalam melihat kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.

“Pencegahan dan pemeriksaan sejak dini merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan. Jika muncul keluhan yang berat, berulang, atau disertai tanda bahaya, masyarakat sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan medis,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (15/9/2026).

Adi menambahkan, pola hidup sehat, konsumsi makanan bergizi seimbang, menjaga kebersihan, aktivitas fisik, serta mencukupi kebutuhan cairan merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan sehari-hari.

“Pelayanan rawat inap diberikan berdasarkan kondisi klinis dan kebutuhan medis pasien. Kami mengimbau masyarakat tidak menunda mencari pertolongan ketika mengalami kondisi yang membutuhkan penanganan, sehingga pemeriksaan dan terapi dapat dilakukan secara cepat dan tepat,” pungkasnya.(shl)