JATIMPOS.CO/KABUPATEN MADIUN — Pembentukan karakter siswa di Kabupaten Madiun akan diperkuat melalui pembiasaan perilaku positif selama minimal 40 hari berturut-turut. Pemerintah Kabupaten Madiun juga menyiapkan program pembinaan lintas agama serta memperkuat penanganan anak tidak sekolah yang jumlahnya masih sekitar 3.000 anak.

Bupati Madiun Hari Wuryanto mengatakan, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada kecerdasan akademis. Peserta didik juga perlu memiliki karakter dan perilaku baik yang dibentuk melalui kebiasaan sehari-hari.

“Pendidikan itu tidak hanya soal kecerdasan akademis, tetapi juga bagaimana membentuk karakter dan perilaku anak menjadi lebih baik,” ujar Hari Wuryanto dalam kegiatan Gerakan Pembiasaan Madiun Berkarakter (GEMAR) yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun di Gedung Dwija Hayu, Jumat (16/10/2026).

Menurut Hari Wur, pembentukan karakter membutuhkan proses dan konsistensi. Pembiasaan selama 40 hari berturut-turut diharapkan dapat membantu menanamkan nilai-nilai positif hingga menjadi bagian dari perilaku anak.

“Pembiasaan ini harus dilakukan secara konsisten. Harapannya, setelah 40 hari berturut-turut, perilaku positif tersebut bisa tertanam dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Karena itu, keberhasilan GEMAR membutuhkan keterlibatan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua. Pembiasaan yang diterapkan di sekolah diharapkan tetap berlanjut di lingkungan keluarga.

Pemkab Madiun juga berencana menggandeng Kementerian Agama, guru madrasah diniyah (Madin), serta pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat pembinaan karakter. Bagi anak-anak Muslim, salah satu program yang disiapkan adalah gerakan “Ayo Mengaji” agar kebiasaan mengaji tumbuh sejak dini.

Sementara itu, pembinaan karakter bagi anak-anak non-Muslim akan dilakukan melalui kerja sama dengan pihak terkait di Kementerian Agama dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Dengan demikian, pembinaan karakter diharapkan dapat menjangkau seluruh peserta didik tanpa membedakan agama.

Selain penguatan karakter, Hari Wur menyoroti persoalan anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Madiun. Berdasarkan data yang disampaikan, masih terdapat sekitar 3.000 anak yang belum bersekolah.

“Dari sekitar 3.000 anak yang masuk data anak tidak sekolah, sebanyak 280 anak sudah berhasil kami tangani melalui kerja sama tim. Penanganan ini akan terus kami perkuat,” ujar Hari Wur.

Pemkab Madiun selanjutnya akan melibatkan kepala sekolah untuk mendata dan mengidentifikasi anak tidak sekolah di wilayah masing-masing agar penanganannya lebih terarah.

Program pembentukan karakter dan penanganan ATS tersebut akan terus diperkuat pada semester berikutnya, termasuk melalui penyusunan kurikulum program “Ayo Mengaji”.

Hari Wur menegaskan, kecerdasan akademis harus berjalan beriringan dengan karakter yang baik. Melalui GEMAR dan kolaborasi lintas sektor, Pemkab Madiun berharap sekolah dan keluarga dapat bersama-sama membentuk generasi yang cerdas, berakhlak baik, serta memperoleh akses pendidikan. (jum).