JATIMPOS.CO/SIDOARJO- UPT Museum Mpu Tantular di Buduran Sidoarjo pada Senin pagi (25/5/2026) menggelar Belar Bersama di Museum (BBM) dengan tema : “Eksplorasi Kearifan Lokal Gerabah Malo Dalam Warisan Budaya Tradisional”.

Kegiatan tersebut diikuti Pelajar SMP, SMA/sederajat beserta guru pendamping berjumlah 200 orang secara offline dengan menghadirkan narasumber : Abdul Ghofur, S.Pd I., SH (praktisi dan pengelola wisata edukasi gerabah), dan Khoirul Aris (praktisi gerabah).

“Ini merupakan bagian dari upaya bersama dalam pembelajaran budaya, meningkatkan akses khususnya kepada generasi muda. Melalui kegiatan ini diharapkan museum tidak hanya menjadi tempat menyimpan dan memamerkan benda bersejarah, tetapi menjadi ruang belajar yang juga menyenangkan, interaktif, dan inspiratif,” ujar Ka UPT Museum Mpu Tantular,
Rica Fuspita. S.STP., M.Si.

Ia menyampaikan pesan tertulis Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Jatim, Evy Afianasari, S.T., M.M.A. “Tema yang diangkat juga selaras dengan koleksi yang dimiliki Museum Negeri Mpu Tantular sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran yang kontekstual,” tambahnya.

Narasumber membimbing peserta Belar Bersama di Museum (BBM) di Museum Mpu Tantular di Buduran Sidoarjo Senin (25/5/2026)

---------------------------------

Kerajinan gerabah Malo sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Kabupaten Bojonegoro yang memiliki nilai sejarah, seni, dan kearifan lokal yang tinggi. Ketersediaan bahan baku tanah liat yang melimpah di wilayah Malo menjadi faktor utama berkembangnya kerajinan gerabah di wilayah tersebut.

Sejak masa prasejarah, manusia telah memanfaatkan tanah liat untuk membuat berbagai peralatan kebutuhan sehari-hari seperti kendi, periuk, dan tempayan.

Gerabah tidak hanya dipandang sebagai benda pakai, tetapi juga menjadi cerminan kehidupan masyarakat tempo dulu yang hidup selaras dengan alam dan mengandalkan keterampilan tangan secara turun-temurun.

“Kepada seluruh peserta, narasumber, dan semua pihak yang telah hadir dan berpartisipasi, saya ucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya. Semoga pertemuan ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran dan berbagi pengetahuan, tetapi juga mampu mempererat silaturahmi dan memperkuat komitmen kita bersama untuk terus menjaga, melestarikan, dan memajukan budaya Jawa Timur,” kata Kadisbudpar Jatim.

Berkembang Sejak 1930
Praktisi gerabah Khoirul Aris mengungkapkan, kerajinan gerabah di Desa Rendeng, Kecamatan Malo, Bojonegoro, telah berkembang sejak 1930-an dan sempat menjadi mata pencaharian utama masyarakat.

Namun, menurutnya sektor ini mengalami penurunan signifikan akibat krisis moneter 1997–1998 yang menyebabkan banyak pengrajin gulung tikar. Dari sebelumnya sekitar 80 persen warga berprofesi sebagai pengrajin, kini tersisa sekitar 35 persen .

“Dengan berkembangnya zaman dan teknologi, pada tahun 2014 pengrajin gerabah mulai menciptakan inovasi baru yaitu membuat gerabah dengan model buah-buahan dan model celengan kartun berkarakter,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketertarikan masyarakat terhadap proses pembuatan gerabah kemudian mendorong munculnya konsep wisata edukasi berbasis kerajinan tersebut.

Sementara itu, narasumber lain Abdul Ghofur menjelaskan bahwa gerabah merupakan kerajinan berbahan tanah liat yang dibentuk dan dibakar, yang telah dikenal manusia sejak ribuan tahun lalu sebagai peralatan rumah tangga

Ia memaparkan proses pembuatan gerabah yang cukup panjang, mulai dari pengolahan bahan baku tanah liat, pembentukan dengan berbagai teknik seperti putar dan cetak, hingga proses pengeringan dan pembakaran agar menghasilkan produk yang kuat dan tahan air.

Selain nilai fungsi, proses pembuatan gerabah juga mengandung nilai edukatif seperti ketekunan, kesabaran, dan kreativitas yang dinilai penting untuk dikenalkan kepada generasi muda.

Dalam kegiatan itu juga dilakukan praktik langsung. Para siswa yang mengikuti kegiatan tersebut berkesempatan membuat gerabah secara langsung yang dipandu oleh narasumber dan tim Wisata Edukasi Gerabah Malo. (zen)