JATIMPOS.CO/JAKARTA – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengingatkan seluruh Kepala Sekolah Rakyat untuk menjaga integritas dan tidak melakukan penyimpangan dalam menjalankan tugas.

Pesan tersebut disampaikan Gus Ipul dalam Rapat Dinas yang dihadiri Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Prof. Muhammad Nuh, jajaran pejabat Kemensos, serta Kepala Sekolah Rakyat secara daring di Kantor Kemensos, Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Gus Ipul meminta kepala sekolah memiliki pemahaman yang sama mengenai karakteristik siswa Sekolah Rakyat dan memperhatikan cara memberikan pendampingan kepada mereka.

“Jadi para kepala sekolah, sekali lagi saya titipkan ya, apa yang disampaikan Prof. Nuh tadi. Karena kepala sekolah betul-betul harus memiliki pemahaman yang sama terhadap siapa sesungguhnya siswa kita, setelah itu perlakuannya, karena kompas moral kepala sekolah itu jangan ada yang melakukan penyimpangan,” kata Gus Ipul.

Ia juga meminta kepala sekolah segera berkonsultasi apabila menghadapi persoalan dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Menurutnya, persoalan yang muncul perlu disampaikan agar dapat dicari penyelesaiannya bersama.

“Maka itu sekali lagi lebih baik para kepala sekolah, jika ada masalah-masalah, masalah-masalah ini lebih baik segera menyampaikan secara langsung kepada kita, kepada kami, supaya kita bisa carikan solusi secara bersama-sama,” ujarnya.

Gus Ipul mengatakan penyelenggaraan Sekolah Rakyat memasuki tahun kedua dengan berbagai dinamika. Karena itu, menurutnya, sejumlah aspek dalam penyelenggaraan program tersebut perlu terus diperbaiki, termasuk dari sisi sumber daya manusia.

“Kemarin saya diberi pandangan oleh Prof. Nuh, ada tiga hal yang paling penting. Yang pertama, dukungan sarana-prasarana, kemudian yang kedua, perkuat tata kelola, dan yang ketiga ini secara umum menyangkut operasional, yang salah satu titik yang paling krusialnya adalah tentu dari sisi penguatan moral,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Prof. Muhammad Nuh mengatakan, pemahaman terhadap karakteristik siswa menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh sumber daya manusia di Sekolah Rakyat.

“Karena kalau kita belum memahami sejati-jatinya sekolah rakyat, treatment yang kita lakukan tentu tidak akan bisa maksimal. Disitu saya quote ada dua tulisan yang menarik tahun 2025 dan tahun 2026. Jadi pemahaman yang tepat terhadap esensi masalah, itu akan sangat menentukan kualitas dan dampak hasil yang akan dicapai,” kata Prof. Nuh.

Menurutnya, kebutuhan siswa Sekolah Rakyat tidak hanya berkaitan dengan akses pendidikan. Ia menyebut terdapat aspek psikososial yang juga perlu mendapat perhatian.

“Tetapi, karena di situ bukan hanya itu yang dibutuhkan, ada persoalan psikososial di situ, maka inilah yang menjadi uniqueness dari SR itu,” imbuhnya.

Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, Prof. Nuh berharap evaluasi program Sekolah Rakyat dapat dilakukan dengan ukuran yang lebih terukur, termasuk melalui pendekatan Social Return on Investment (SROI).

“Sehingga dari sisi investasi, kita bisa sampaikan ke publik dan bisa meyakinkan ke Pak Presiden, bahwa policy ini, itu tidak hanya benar dari perspektif akademik semata, dari pendidikan semata, karena sudah bisa memberikan akses ke semua anak, khususnya anak-anak miskin untuk bisa mendapatkan pendidikan yang bagus, tetapi juga ada social return-nya,” pungkasnya. (red)