JATIMPOS.CO/BOJONEGORO – Sebagai bentuk tanggung jawab Polisi terhadap keamanan dan ketertiban, serta untuk melindungi dan mengayomi masyarakat dari segala bentuk kejahatan, dalam operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) ke-2 yang digelar mulai 1 Mei hingga 14 Mei 2025 ini, Satreskrim Polres Bojonegoro berhasil membekuk 6 pelaku premanisme yang telah berulah di wilayah Bojonegoro.

Hal tersebut disampaikan oleh Kapolres Bojonegoro AKBP Mario Prahatinto melalui Wakapolres Bojonegoro, Kompol Yoyok Dwi Purnomo dalam konferensi pers di Halaman Mapolres Bojonegro, pada Jum’at (16/5/2025) pagi.

Kompol Yoyok Dwi Purnomo menyampaikan bahwa ke-6 pelaku tersebut di amankan dari 5 TKP yang berbeda, diantaranya dari kecamatan Ngraho, dari kecamatan Kasiman, dari kecamatan Kalitidu, dari wilayah kota, dan dari kelurahan Campurejo, Kecamatan Kota.

“Ke-6 pelaku premanisme ini berinisial AW, TM, MD, S, AH, dan adapun barang bukti yang di amankan berupa sebuah buku catatan atau rekapan, kemudian uang tunai Rp 60.000, sedangkan modus yang dilakukan mereka ini adalah mengemis di muka umum," ungkap Kompol Yoyok.

Kompol Yoyok menambahkan bahwa penangkapan ini bermula dari laporan masyarakat atas maraknya premanisme, kemudian satreskrim Polres Bojonegoro melakukan penyelidikan lebih lanjut, dan kemudian dengan gerak cepat berhasil mengamankan 6 orang pelaku tersebut.

“Atas perbuatannya, ke-6 pelaku dikenakan, pasal 504 KUHP dengan ancaman penjara kurungan 6 Minggu, dan saat ini para pelaku sudah langsung di sidangkan karena ini masuk pasal tipiring," pungkasnya.

Ungkap 17 Kasus

Lebih lanjut Kompol Yoyok Dwi Purnomo juga menyampaikan bahwa Satresnarkoba Polres Bojonegoro berhasil mengungkap total 17 kasus, dengan rincian 2 kasus narkotika jenis sabu, 14 kasus okerbaya, serta 1 kasus okerbaya yang merupakan daftar pencarian orang (DPO) sejak 2024. Dari seluruh pengungkapan itu, aparat berhasil mengamankan 17 orang tersangka.

“Dari 17 tersangka, dua orang terlibat dalam kasus sabu, satu sebagai pengedar dan satu lainnya sebagai pengguna. Sementara 14 orang terlibat sebagai pengedar obat keras berbahaya dan satu tersangka tambahan terkait kasus okerbaya merupakan DPO tahun 2024,” jelas Wakapolres, Kompol Yoyok Dwi Purnomo.

Menurutnya, barang bukti yang diamankan dalam operasi tersebut terdiri dari 1,15 gram narkotika jenis sabu, 1.908 butir obat keras berbahaya yang terdiri dari 11 butir pil Y, 408 butir pil Eximer, dan 1.489 butir pil LL. Selain itu, polisi juga menyita 14 unit telepon genggam, 7 sepeda motor, dan uang tunai sebesar Rp700.000 yang diduga hasil penjualan ilegal.

Lebih lanjut, Kompol Yoyok merinci bahwa para tersangka dikenakan pasal yang berbeda berdasarkan peran masing-masing. Untuk pengedar narkotika, dikenakan Pasal 114 UU No. 35 Tahun 2009 dengan ancaman minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun penjara serta denda hingga Rp10 miliar. Sementara pengguna sabu dikenakan Pasal 112 dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun dan maksimal 12 tahun, serta denda maksimal Rp8 miliar.

Sementara untuk pelaku peredaran obat keras berbahaya tanpa izin, polisi menerapkan UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, dengan ancaman hukuman penjara paling lama 10 hingga 15 tahun.

“Seluruh tersangka saat ini telah ditahan di Mapolres Bojonegoro untuk menjalani proses hukum lebih lanjut,” jelas Yoyok.

Kompol Yoyok juga mengimbau kepada masyarakat agar lebih waspada dan aktif melaporkan aktivitas mencurigakan terkait peredaran narkotika dan okerbaya di lingkungan masing-masing.

Ia menegaskan bahwa kepolisian akan terus melakukan operasi secara rutin demi menciptakan lingkungan yang bersih dari penyalahgunaan obat dan zat berbahaya.

“Partisipasi masyarakat sangat penting. Jangan ragu untuk melapor jika menemukan indikasi penyalahgunaan narkoba atau obat-obatan terlarang. Ini adalah tanggung jawab bersama,” pungkas Wakapolres. (Nto)

 

(nto).