JATIMPOS.CO/BONDOWOSO. Pemerintah Kabupaten Bondowoso kembali menggelar kontes ternak setelah enam tahun tidak terlaksana. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Muharram itu mendapat sambutan antusias dari para peternak karena dinilai menjadi bentuk penghargaan terhadap usaha mereka dalam meningkatkan kualitas ternak.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Bondowoso, Hendri Widotono, mengatakan pelaksanaan kontes ternak merupakan tindak lanjut dari arahan langsung Bupati Bondowoso yang menginginkan adanya wadah apresiasi bagi para peternak di daerah.
" Seluruh masyarakat dan peternak menghendaki adanya kontes ternak. Bapak Bupati secara khusus menginstruksikan kepada Dinas Peternakan agar kegiatan ini kembali diadakan. Saat saya tanyakan kapan pelaksanaannya, beliau meminta agar dimasukkan dalam kalender Festival Muharram, dan hari ini hal itu telah terealisasi," kata Hendri saat ditemui di lokasi acara, Rabu (24/06/2026).
Menurut dia, penyelenggaraan tahun ini masih bersifat perdana setelah vakum cukup lama. Keterbatasan kemampuan fiskal daerah membuat jumlah peserta yang dapat mengikuti kontes masih dibatasi melalui mekanisme seleksi berjenjang di tingkat kecamatan.
Seleksi awal dilakukan oleh lima Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang tersebar di Bondowoso. Dari masing-masing wilayah, peternak mengirimkan ternak terbaiknya untuk mengikuti tahap penilaian tingkat kabupaten.
" Peserta yang hadir hari ini bukan peserta yang datang langsung dari masyarakat. Mereka sudah melalui proses seleksi dan penjurian di tingkat Puskeswan. Jadi yang tampil di sini adalah ternak-ternak terbaik dari masing-masing wilayah," ujar Hendri.
Ia menjelaskan, proses penilaian tingkat akhir dilakukan oleh tim juri independen yang berasal dari berbagai institusi, yakni akademisi dari Universitas Jember, perwakilan kepolisian, serta juri dari Pemerintah Kabupaten Malang. Keterlibatan juri eksternal dilakukan untuk menjaga objektivitas hasil penilaian.
Dalam kontes tersebut, panitia membagi penilaian ke dalam beberapa kategori, antara lain pedet jantan, pedet betina, calon kereman, dan sapi kereman.
" Setiap wilayah diperbolehkan mengirimkan ternak terbaiknya sesuai kategori yang ditentukan, " Ungkapnya.
Meski baru digelar kembali, antusiasme peternak terlihat tinggi. Banyak peserta datang dengan perlengkapan dan atribut yang mereka siapkan secara mandiri. Bahkan sejumlah peternak mengenakan seragam khusus sebagai bentuk kebanggaan terhadap ternak yang mereka pelihara.
Hendri menilai semangat itu menunjukkan bahwa peternak membutuhkan ruang apresiasi. Menurut dia, penghargaan terhadap hasil kerja peternak dapat menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas budidaya dan produktivitas ternak di tingkat masyarakat.
" Peternak merasa dihargai. Itu yang paling penting. Ketika hasil pemeliharaan mereka diapresiasi, semangat untuk meningkatkan produksi dan kualitas ternak juga ikut tumbuh," katanya.
Ia mencontohkan salah satu sapi yang tampil dalam kontes memiliki bobot mendekati 700 kilogram meski usianya belum mencapai dua tahun. Kondisi tersebut, menurut dia, menunjukkan kemampuan peternak Bondowoso dalam menghasilkan ternak berkualitas apabila mendapatkan pendampingan dan motivasi yang tepat.
Ke depan, Pemkab Bondowoso berencana mengembangkan kontes ternak menjadi agenda tahunan yang memiliki identitas tersendiri. Pemerintah daerah bahkan berharap kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi sebuah merek atau ajang unggulan yang masuk dalam kalender wisata dan ekonomi daerah.
" Ini baru permulaan. Sesuai arahan Bupati, kami ingin membangun branding kontes ternak Bondowoso secara khusus, seperti daerah lain yang memiliki festival ternak unggulan. Harapannya nanti menjadi agenda rutin yang ditunggu masyarakat," ujarnya.
Terkait munculnya aspirasi sebagian masyarakat mengenai kemungkinan dihidupkannya kembali tradisi aduan sapi, Hendri menegaskan hal tersebut berada di luar kewenangan Dinas Peternakan dan Perikanan. Menurut dia, persoalan tersebut memerlukan pembahasan lebih lanjut antara pemerintah daerah dan legislatif karena menyangkut regulasi yang berbeda.
Sementara itu, penyelenggaraan kontes ternak diyakini tidak hanya memberi manfaat bagi sektor peternakan, tetapi juga berdampak terhadap perputaran ekonomi lokal.
" Kehadiran peserta dan pengunjung memicu aktivitas masyarakat di sekitar lokasi kegiatan, mulai dari jasa parkir hingga pelaku usaha kecil yang memanfaatkan keramaian acara, " Pungkasnya. (Eko)