JATIMPOS.CO/BONDOWOSO. Pemerintah Kabupaten Bondowoso mempercepat pelaksanaan program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu rakyat sebagai upaya meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung target swasembada gula nasional.
Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kegiatan panen tebu program bongkar ratoon tahun 2026 yang digelar di Kecamatan Tapen, Kamis (18/6/2026). Kegiatan itu juga dirangkai dengan zoom meeting bersama Gubernur Jawa Timur dalam pelaksanaan tebang dan panen perdana program bongkar ratoon tebu tahun 2026.
Program bongkar ratoon merupakan bagian dari Program Strategis Nasional (PSN) sektor pergulaan yang difokuskan pada peningkatan produktivitas tebu rakyat melalui peremajaan tanaman yang sudah menurun hasil produksinya.
Kepala Dinas Pertanian Bondowoso Mulyadi mengatakan, program tersebut menjadi salah satu instrumen penting dalam mencapai target swasembada gula yang dicanangkan pemerintah pusat.
" Bongkar ratoon ini merupakan program strategis nasional dalam rangka menuju swasembada gula. Pemerintah daerah terus mendorong agar petani melakukan peremajaan tanaman sehingga produktivitas semakin meningkat," kata Mulyadi.
Pada tahun 2026, Bondowoso memperoleh alokasi program bongkar ratoon seluas 2.352 hektare. Hingga pertengahan Juni, realisasi pelaksanaannya telah mencapai sekitar 797 hektare atau 32 persen dari target.
Menurut Mulyadi, percepatan pelaksanaan program menjadi penting karena proses peremajaan harus selesai sebelum memasuki masa tutup giling Pabrik Gula Prajekan pada November mendatang.
" Target kita sebelum November sudah harus mencapai 100 persen. Kalau melewati itu akan terkendala jadwal tutup giling PG Prajekan," ujarnya.
Ia menilai keberhasilan program tersebut tidak hanya berdampak pada peningkatan hasil panen petani, tetapi juga menjadi faktor penentu keberlanjutan industri gula di daerah.
Data Dinas Pertanian menunjukkan, produksi tebu Bondowoso pada musim giling 2025 mencapai sekitar 5,2 juta kuintal, melampaui target yang ditetapkan sebesar 5 juta kuintal.
Atas capaian tersebut, target produksi tebu tahun 2026 kembali dinaikkan menjadi 5,5 juta kuintal. Pemerintah daerah optimistis target tersebut dapat dicapai apabila program bongkar ratoon berjalan sesuai rencana.
Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i mengatakan sektor tebu memiliki posisi strategis dalam mendukung kedaulatan pangan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
Menurut dia, upaya mewujudkan swasembada gula tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan konsumsi nasional, tetapi juga menyangkut peningkatan kesejahteraan petani tebu.
" Bondowoso memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan tebu di Jawa Timur. Namun keberhasilan ini membutuhkan sinergi antara pemerintah, petani, industri, penyuluh, dan seluruh pihak terkait," kata As’ad.
Pemkab Bondowoso, lanjut dia, akan terus mengawal pengembangan tebu rakyat melalui penguatan kawasan budidaya, peningkatan pendampingan penyuluh pertanian, pengembangan kemitraan dengan industri gula, serta pemanfaatan teknologi pertanian yang lebih modern.
As’ad juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Pertanian, SGN, PG Prajekan, penyuluh pertanian hingga petani yang selama ini berkontribusi menjaga keberlangsungan sektor pergulaan di Bondowoso.
Dengan hanya memiliki satu pabrik gula, yakni PG Prajekan, keberlangsungan industri gula di Bondowoso dinilai sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku dari petani tebu setempat.
" Ini menjadi tanggung jawab bersama agar produksi tebu Bondowoso tetap kuat dan mampu menopang target swasembada gula nasional," Pungkasnya. (Eko)