JATIMPOS.CO, KABUPATEN JEMBER - Ancaman krisis lingkungan akibat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari yang kian kritis dan kelebihan muatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Jember, langsung bergerak membantu.

Salah satunya dengan mengurangi pengiriman sampah ke TPA Pakusari. Lembaga yang biasanya sibuk mengurusi kebencanaan ini kini menginisiasi gerakan penanggulangan bencana ekologis dari hulu: gerakan pilah sampah mandiri langsung dari lingkungan kantor.

Aksi nyata ini lahir dari sebuah keprihatinan mendalam. TPA Pakusari dilaporkan menerima limpahan sampah hingga 200 ton setiap harinya, dengan ketinggian gunungan sampah yang telah mencapai 25 meter.

Jika tidak ada pembatasan atau pengelolaan yang ekstrem dari masyarakat, kawasan hilir pembuangan tersebut terancam ditutup total, yang berpotensi memicu bencana lingkungan baru di Kabupaten Jember.

Kepala BPBD Kabupaten Jember Edy Budi Susilo menyampaikan bahwa kesadaran ini harus dimulai dari diri sendiri. Setiap aktivitas kedinasan, sekecil apa pun—termasuk saat aparatur sipil negara (ASN) menikmati makan siang—pasti menghasilkan sampah.

"Kami di BPBD menginisiasi, mencoba mengelola sampah hasil produk dari kita semua. Yang kalau kami hitung, ternyata volumenya lumayan juga. Per hari itu rata-rata sekitar 5 sampai 7 kilogram sampah dihasilkan di kantor ini. Jadi kalau diakumulasikan dalam seminggu, bisa mencapai 50 kilogram sampah, baik itu organik maupun anorganik," kata Edy, Rabu (03/06/2026).

BPBD Jember membuktikan bahwa jika dikelola dengan manajemen yang tepat, sampah tidak akan menjadi beban lingkungan.

Edy menjelaskan jika Kantor BPBD Jember kini menerapkan sistem zonasi pembuangan sampah yang ketat menggunakan beberapa tong sampah berkode warna Sistem Komposter Organik (Air Lindi) dan Gerakan 'Sedekah Sampah' Kering.

"Sampah sisa makanan dan dedaunan tidak lagi dibuang ke tempat sampah umum. Sampah-sampah ini dimasukkan ke dalam instalasi tong komposter khusus. Melalui proses fermentasi, sampah organik ini berhasil diolah menjadi Air Lindi (pupuk organik cair) berkualitas tinggi serta pupuk kompos padat. Pupuk ini langsung dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman hias dan penghijauan di area pemukiman kantor," imbuhnya.

"Untuk jenis sampah anorganik atau sampah kering seperti botol plastik, gelas plastik bekas air mineral, kertas, hingga kardus dikumpulkan dalam kondisi bersih," tambahnya menjelaskan.

Menariknya, BPBD Jember mengintegrasikan program ini dengan aksi sosial. Sampah bernilai ekonomi tersebut dikemas dalam kantong besar dan secara rutin disumbangkan kepada para pemulung yang biasa beroperasi di sekitar kantor.

"Ada dua orang pemulung yang biasanya selalu singgah di tempat kami. Ini nanti (sampah daur ulang) akan kami berikan kepada mereka sebagai wujud sedekah kita, sedekah sampah yang bernilai ekonomi dan langsung bisa dimanfaatkan oleh teman-teman pemulung," ulas Edy.

Sampah-sampah yang benar-benar tidak lagi memiliki nilai daur ulang atau tidak bisa terurai dipisahkan secara khusus pada wadah tersendiri, sehingga tidak mengontaminasi jenis sampah lainnya. Persoalan sampah sebenarnya bukanlah masalah yang pelik asalkan ada kemauan kolektif untuk memilahnya sejak dari sumber pertama. (Ari)