JATIMPOS.CO/TUBAN - Saat masih duduk di bangku SD, Sheila Aulia Qurrahman, 16, selalu memandang kagum Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang dia lihat di televisi dan ponsel. Kini, impiannya untuk menjadi salah satu bagian penting upacara kemerdekaan itu terwujud.

DI bawah teriknya mentari yang membakar Alun-alun Tuban, busana putih rapi membalut tubuh seorang gadis yang tengah berdiri tegap. Pandangannya lurus ke depan. Senyum tipis menghiasi wajahnya, menyimpan kebanggaan yang sulit disembunyikan.

Di antara 76 anggota Paskibraka yang terpilih itu ada sosok yang akrab disapa Sheila. Pelajar SMAN 1 Tuban ini mengemban amanah sebagai pembawa baki upacara penurunan bendera pada Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Alun-alun Tuban. 

Tentu Sheila sapaan akrabnya, tak menyangka kalau impiannya sejak kecil untuk tergabung menjadi regu Paskibraka akhirnya terwujud. “Ini adalah bagian dari mimpi saya sejak kecil. Menjadi pembawa baki bendera,” kenang dia. 

Pelajar asal Desa Talun, Kecamatan Montong ini menyampaikan, untuk sampai ke titik tersebut bukanlah hal yang mudah. Butuh banyak pengorbanan yang dilakukan. Ketika banyak seusianya yang masih menghabiskan waktunya untuk bermain dan nongkrong, Sheila memilih mengisi hari-harinya dengan berlatih kedisiplinan dan baris berbaris. 

“Saya mempersiapkan untuk bisa seleksi paskibraka ini sejak kelas 10. Saya latihan fisik, saya latihan PBB, serta beberapa hal untuk menunjang untuk seleksi Paskibraka,” katanya. 

Di tengah kesibukannya sebagai pelajar SMAN 1 Tuban, dia harus pintar membagi waktu. Tugas sekolah dan aktivitas latihan sama-sama menuntut perhatian. Namun, keinginan untuk mewujudkan cita-cita membuatnya memilih untuk tidak menyerah.

’’Saya harus pintar-pintar membagi waktu, antara latihan untuk mewujudkan impian saya dan juga tugas-tugas sekolah yang harus saya kerjakan,” kata dia. 

Alumni SMPN 2 Tuban tersebut mengatakan, seleksi pemilihan puta-putri terbaik Tuban untuk bertugas mengibarkan bendera merah putih ini dilakukan selama 3 bulan. Ratusan siswa harus bertarung dengan kandidat-kandidat terbaik lainnya. Hingga akhirnya, Namanya masuk kedalam tim paskibraka Tuban. 

Dikatakan cewek berparas cantik tersebut, untuk terpilih menjadi salah satu anggota Paskibraka Tuban prosesnya tidak mudah. Bukan hanya ketahanan fisik dan kemampuan baris berbaris yang diperlukan. Namun, ketahanan mental pun juga diuji.

Semua proses itu dia jalankan dengan hati yang senang. Lantaran, dia yakin bahwa apa yang dia usahakan, akan sebanding dengan hasil yang akan diperoleh. Maka, ketika rasa malas datang, dia harus berperang dengan kecamuk di dalam hatinya. ’’Alhamdulillah berkat perjuangan itu, mimpi ini akhirnya membuahkan hasil,” tuturnya.

Baginya, tugas meenjadi pembawa baki bukan sekadar berjalan beberapa langkah di hadapan ribuan pasang mata. Namun, menjadi simbol dari tanggung jawab yang jauh lebih besar. Pengalaman menjadi pembawa baki akan menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Sheila juga menitipkan pesan kepada generasi muda agar tidak takut mengejar kemampuan dan cita-cita yang dimiliki.

“Terus kembangkan bakat kalian di bidang mana pun yang bisa menunjang jiwa nasionalisme terhadap negara. Jangan malu untuk berkembang, dan teruslah belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya,” pesannya. (min)