JATIMPOS.CO/KOTA MADIUN — Aroma jajanan tradisional menyeruak di antara deretan stan sederhana yang berjajar di Jalan Pacarsari, Kelurahan Manisrejo, Kecamatan Taman, Minggu (14/6/2026) pagi. Di tengah riuh percakapan pengunjung dan pedagang, ada pemandangan yang tak biasa. Uang rupiah tak langsung berpindah tangan.
Setiap pengunjung yang ingin berbelanja harus terlebih dahulu menukarkan uangnya dengan kepeng, alat tukar khusus yang digunakan di Pasar Tradisional Mbabrik. Kepeng-kepeng itu kemudian menjadi "mata uang" yang berlaku di seluruh area pasar.
Konsep unik tersebut menjadi daya tarik utama Pasar Tradisional Babrik yang resmi dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun. Pasar yang digagas warga ini tidak hanya menghadirkan nuansa tradisional, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Di bawah rindangnya pepohonan dan suasana kampung yang masih terasa akrab, puluhan pelaku UMKM menawarkan beragam produk. Mulai dari makanan tradisional, aneka olahan rumahan, hingga berbagai produk kreatif hasil tangan warga.
Bagi sebagian pengunjung, pengalaman berbelanja menggunakan uang kepeng menghadirkan sensasi nostalgia yang jarang ditemui di era transaksi digital seperti sekarang.
Ketua Proklim Rekso Bumi Manisrejo, Slamet Riyadi, menjelaskan bahwa penggunaan kepeng sengaja diterapkan untuk memberikan pengalaman berbeda sekaligus memperkuat identitas pasar.
"Alat tukarnya atau dalam rangka transaksi itu dari calon pembeli rupiahnya ditukarkan dengan alat tukar berupa kepeng. Di sana ada kepeng nilai 10 mewakili Rp10.000, ada 5, 3, dan 2 yang mewakili ribuan. Nanti uang ditukar terlebih dahulu baru dibelanjakan," ujarnya.
Menurut Slamet, pasar tersebut lahir dari semangat warga yang ingin memberikan ruang bagi produk-produk lokal agar lebih dikenal masyarakat luas.
Ia berharap Pasar Mbabrik tidak sekadar menjadi kegiatan sesaat, melainkan mampu tumbuh sebagai agenda rutin yang memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar.
"Harapan kami semoga kegiatan ini bisa berkelanjutan. Insyaallah bisa memberi nilai manfaat kepada warga dan seluruh UMKM," katanya.
Saat meresmikan pasar, Bagus Panuntun menyempatkan diri berkeliling meninjau satu per satu stan yang diisi pelaku usaha lokal. Ia berbincang dengan para pedagang sekaligus melihat berbagai produk unggulan yang dipamerkan.
Bagus Panuntun mengapresiasi inisiatif warga Manisrejo yang dinilai berhasil mengubah potensi lingkungan menjadi aktivitas ekonomi produktif.
Menurut dia, keberadaan Pasar Mbabrik menjadi contoh bagaimana kolaborasi masyarakat dapat melahirkan inovasi yang berdampak langsung terhadap perekonomian warga.
"Warga ini kemudian mempunyai inisiasi karena punya beberapa produk yang berasal dari B2L, teman-teman UMKM di RW. RW Manisrejo ini kemudian menginisiasi membuat Pasar Minggu Mbabrik," ujar Bagus Panuntun.
Lebih dari sekadar tempat jual beli, Pasar Mbabrik menawarkan sebuah pengalaman. Pengunjung tidak hanya datang untuk membeli makanan atau produk UMKM, tetapi juga merasakan atmosfer kebersamaan yang mulai jarang ditemukan di perkotaan.
Di setiap sudut pasar, tampak interaksi hangat antara penjual dan pembeli. Anak-anak berlarian sambil menggenggam kepeng, sementara para orang tua menikmati suasana santai sembari berburu kuliner tradisional.
Kehadiran Pasar Mbabrik menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan penguatan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan. Uang kepeng yang digunakan sebagai alat transaksi bukan sekadar simbol nostalgia, melainkan media untuk menarik perhatian masyarakat agar lebih mengenal dan mencintai produk lokal.
Dengan dukungan warga dan pemerintah, Pasar Tradisional Mbabrik diharapkan terus berkembang menjadi ruang promosi UMKM, destinasi kuliner alternatif, sekaligus pusat interaksi sosial yang mempererat kebersamaan masyarakat Kota Madiun.
Di tengah derasnya modernisasi, Pasar Mbabrik menjadi pengingat bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat. Bahkan, dari kepeng-kepeng sederhana yang berpindah tangan itulah, roda ekonomi warga perlahan terus berputar. (jum).