JATIMPOS.CO/KOTA MADIUN - Udara pagi di Kota Madiun masih menyisakan dingin yang lembap. Langit kelabu menggantung, gerimis turun perlahan seolah menahan matahari untuk segera muncul. Di suasana yang tenang itu, Plt Wali Kota Madiun, Bagus Panuntun, mengayuh sepeda bersama sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), Rabu (22/4/2026). 

Tak ada protokoler kaku. Tak ada meja rapat. Hanya deru napas, putaran pedal, dan percakapan yang mengalir apa adanya.

Bagi Bagus Panuntun, gowes bukan sekadar olahraga. Di balik rute yang ditempuh, terselip cara sederhana namun efektif untuk memastikan kota berjalan sebagaimana mestinya. Lebih dekat, lebih nyata, dan langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Ya, ini kita lagi cek tempat-tempat yang nanti akan jadi salah satu tujuan wisata atau destinasi wisata,” ujar Bagus Panuntun di sela gowesnya.

Rute pagi itu bukan tanpa tujuan. Rombongan bergerak menyusuri sejumlah titik strategis kota. Salah satu yang disinggahi adalah bekas Pasar Bunga di belakang GOR Wilis. Kawasan itu tengah disiapkan menjadi wajah baru ruang publik untuk aktivitas olahraga dan rekreasi masyarakat di Kota Madiun.

Di benak Bagus Panuntun, lokasi tersebut bukan sekadar lahan kosong. Lokasi itu bakal dikonsep sebagai ruang hidup, tempat warga berolahraga, berkumpul, sekaligus menikmati suasana kota dengan konsep yang lebih modern.

“Nanti akan jadi jogging track dan juga hangout place untuk masyarakat, dengan konsep urban,” katanya.

Lebih dari itu, kawasan tersebut akan dipadukan dengan area GOR Wilis agar menjadi satu kesatuan destinasi. Tidak hanya soal estetika, tetapi juga fungsi yang berkelanjutan.

Ia juga menegaskan bahwa ruang tersebut akan difokuskan bagi pelaku ekonomi kreatif. Aktivitas pedagang kaki lima tetap difasilitasi, namun ditempatkan di area lain agar kawasan utama tetap nyaman bagi pejalan kaki.

“Jadi nanti steril untuk pejalan kaki. Parkir kita siapkan di sisi utara atau di stadion,” jelasnya.

Plt Wali Kota Madiun Bagus Panuntun bersama jajaran OPD meninjau lokasi lantai dua pasar Sleko yang akan dihidupkan kembali melalui konsep Youth Market.

Rombongan kemudian bergerak ke wilayah Kelurahan Kejuron. Di sana, sejumlah fasilitas umum ikut ditinjau, mulai dari Lapangan Gulun, lapak UMKM, hingga Puskesmas Pembantu (Pustu) Kejuron. Dari pengamatan langsung itu, Bagus menemukan persoalan sederhana yang sering luput dari perhatian, yakni akses masuk yang kurang ramah bagi masyarakat.

“Kemarin ada masukan soal pintu masuk yang susah. Ini kemungkinan ada bangunan yang kita bongkar supaya kelihatan lebih luas,” ujarnya.

Pendekatan seperti ini yang membuat gowes menjadi berbeda. Bukan sekadar melihat dari laporan di atas kertas, melainkan merasakan langsung kondisi di lapangan.

Perjalanan berlanjut ke Pasar Sleko. Di tempat ini, perhatian Bagus Panuntun tertuju pada lantai dua pasar yang akan dihidupkan kembali melalui konsep Youth Market. Sebuah ruang yang dirancang khusus untuk anak muda yang ingin mengembangkan usaha, terutama di bidang kuliner dan ekonomi kreatif.

“Ini akan kita galakkan kembali. Khusus untuk pelaku UMKM muda yang punya diferensiasi usaha,” katanya.

Konsepnya bukan pasar biasa. Bagus Panuntun ingin menghadirkan ruang yang memberi identitas bagi generasi muda. Tempat ide-ide segar bisa tumbuh dan berkembang. Rencananya, program ini akan diluncurkan pada Juni mendatang.

Gowes pagi itu akhirnya berujung di Taman Bantaran Kali Madiun. Di titik ini, perjalanan terasa lengkap, dari ruang kota yang direncanakan, fasilitas yang diperbaiki, hingga kawasan yang dihidupkan kembali.

Di tengah ritme pemerintahan yang sering kali formal dan berjarak, cara Bagus Panuntun ini terasa berbeda. Ia memilih mendekat, menyatu dengan ruang kota, dan mendengar langsung denyutnya.

Mungkin bagi sebagian orang, itu hanya gowes pagi. Namun bagi Kota Madiun, kayuhan sepeda itu adalah langkah kecil menuju perubahan yang lebih besar. (jum).