JATIMPOS.CO/KOTA MADIUN - Suasana malam di Pahlawan Street Center (PSC) Kota Masiun tak pernah benar-benar sepi, terlebih selepas Lebaran. Lampu-lampu taman menyala hangat, kursi-kursi dipenuhi keluarga yang menikmati waktu luang, dan deretan lapak UMKM menghadirkan ragam kuliner yang menggoda. Namun, di balik riuh itu, tersisa jejak yang tak sedap dipandang: sampah plastik, sisa makanan, hingga gelas sekali pakai yang tercecer di sudut-sudut ruang publik.

Malam itu, Senin (23/4/2026), Plt Wali Kota Madiun Bagus Panuntun memilih turun langsung. Tanpa banyak seremoni, ia menyusuri kawasan PSC hingga PRC, menelusuri satu per satu lapak pedagang. Sidak itu bukan sekadar inspeksi rutin, melainkan respons atas kondisi kawasan yang dinilai mulai kehilangan wajah bersihnya usai lonjakan pengunjung pada H+1 dan H+2 Lebaran.

Di beberapa titik, tempat sampah tampak penuh. Petugas kebersihan terlihat sigap menyapu, namun laju produksi sampah dari aktivitas jual beli tampaknya lebih cepat dari upaya penanganannya. Di bawah meja pelanggan dan di sela bangku taman, sisa-sisa aktivitas malam itu menumpuk—diam-diam menjadi penanda rendahnya disiplin kolektif.

Bagus Panuntun tak menutup mata. Ia mengapresiasi komitmen sebagian pelaku UMKM yang telah berupaya menjaga kebersihan. Tetapi temuan di lapangan, menurutnya, tak bisa ditoleransi.

“Tadi saya cek bagaimana teman-teman pelaku UMKM yang buka di PSC ini komitmennya. Karena kemarin saya memberi izin, mereka komitmen menjaga kebersihan. Kebetulan tadi saya melihat mereka nggak jaga kebersihannya, masih banyak sampah berserakan,” ujar Plt Wali Kota Madiun, Bagus Panuntun dikutip dari akun medsos pribadinya @masbaguspanuntun.

Nada suaranya tegas. Bagi Bagus Panuntun, PSC bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan ruang bersama yang harus dijaga martabatnya. Ia menegaskan aturan baru yang harus segera dipatuhi: setiap pelaku usaha wajib menyediakan kantong sampah atau trash bag dan bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan.

Pesan itu tidak berhenti pada imbauan. Ada konsekuensi nyata bagi yang abai. “Kalau besok itu mereka nggak nyiapin trash bag atau tempat sampah, itu pasti besok saya akan tutup,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi garis tegas antara toleransi dan ketertiban. Pemerintah Kota Madiun tampak ingin memastikan bahwa geliat ekonomi di PSC tidak mengorbankan kenyamanan publik dan estetika kota.

Fenomena ini memperlihatkan paradoks klasik destinasi wisata: semakin ramai, semakin besar pula tantangan menjaga kebersihan. PSC yang kini menjelma menjadi magnet wisata, terutama saat musim liburan, menuntut kedewasaan kolektif—baik dari pengunjung maupun pelaku usaha.

Di satu sisi, geliat UMKM menjadi denyut ekonomi lokal yang patut dirawat. Di sisi lain, disiplin menjaga ruang publik menjadi syarat mutlak agar denyut itu tidak justru merusak lingkungan yang menopangnya.

Langkah sidak yang dilakukan Bagus Panuntun malam itu menjadi pengingat bahwa kebersihan bukan hanya urusan petugas, melainkan tanggung jawab bersama.

Di kota yang tengah membangun citra sebagai destinasi unggulan, sampah yang tercecer bukan sekadar masalah visual—ia bisa menjadi penentu apakah orang ingin kembali atau memilih pergi. Dan di PSC, di antara lampu-lampu yang terus menyala, ujian itu sedang berlangsung. (jum).