SURABAYA//JATIMPOS.CO - Pemerintah Kota Surabaya terus memperkuat langkah pengendalian harga untuk menjaga stabilitas inflasi dan memastikan pasokan bahan pangan tetap aman di tengah dinamika ekonomi pada awal 2026. Berbagai program intervensi pasar digencarkan agar harga kebutuhan pokok tetap terjangkau sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Kota Surabaya, Vykka Anggradevi Kusuma, mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Surabaya secara year on year (y-on-y) pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,11 persen. Angka tersebut tergolong tinggi, namun masih sejalan dengan tren inflasi di tingkat provinsi maupun nasional.
Meski demikian, jika dilihat dari indikator year to date (y-to-d), kondisi inflasi Surabaya dinilai masih relatif terkendali. Dari Januari hingga Februari 2026, inflasi tercatat berada di angka 0,83 persen sehingga masih berada dalam batas aman.
“Kalau kita lihat secara year to date, Surabaya masih di angka 0,83 persen. Jadi sebenarnya masih dalam batas aman,” ujar Vykka, Jumat (13/3/2026).
Kendati demikian, Pemkot Surabaya tetap mengambil langkah preventif karena inflasi dipengaruhi banyak faktor, tidak hanya harga bahan pokok, tetapi juga komoditas lain seperti emas serta tarif angkutan udara.
Menurut Vykka, dua komoditas tersebut justru menjadi penyumbang terbesar inflasi di Surabaya dalam beberapa bulan terakhir. Pada periode Januari hingga Februari 2026, tarif angkutan udara menjadi salah satu faktor dominan yang mendorong kenaikan inflasi.
Ia memperkirakan kontribusi sektor transportasi udara terhadap inflasi masih berpotensi meningkat menjelang masa libur Lebaran 1447 Hijriah karena tingginya permintaan perjalanan masyarakat.
Untuk menjaga stabilitas harga, Pemkot Surabaya mengintensifkan berbagai program stabilisasi seperti Pasar Murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), Operasi Pasar, hingga inspeksi mendadak di pasar tradisional dan distributor.
Sementara itu, dari kelompok bahan pangan, komoditas cabai menjadi salah satu yang mengalami kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut dipicu faktor cuaca, terutama musim hujan yang memengaruhi produksi dan distribusi.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Surabaya bekerja sama dengan Pasar Induk Surabaya Sidotopo (PISS) dalam penyediaan cabai dengan harga lebih terjangkau melalui program Pasar Murah dan GPM.
Di sisi lain, pemerintah kota juga terus memantau harga beras, khususnya beras premium yang banyak dikonsumsi masyarakat. Untuk menjaga keterjangkauan harga, Pemkot Surabaya menggandeng Bulog dalam penyediaan beras program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP).
Saat ini harga beras premium di Surabaya masih relatif stabil di kisaran Rp16 ribu per kilogram dan belum menunjukkan lonjakan signifikan di pasaran. (fred)
