JATIMPOS.CO//SURABAYA - Senin siang di balai RW 8 kawasan Babatan Pratama, Wiyung, suara para bunda PAUD terdengar lebih lantang dari biasanya. Mereka tidak sedang membicarakan kegiatan lomba anak atau jadwal pentas kecil di sekolah. Yang mereka suarakan adalah harapan: tentang kesejahteraan, fasilitas belajar, dan masa depan pendidikan anak usia dini di Surabaya.
Harapan itu mengemuka dalam kegiatan Penjaringan Aspirasi Masyarakat yang digelar Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Johari Mustawan, Senin (25/5/2026). Politikus yang akrab disapa Bang Jo itu mendengarkan langsung keluhan sekaligus semangat para pendidik PAUD yang selama ini bekerja di garis depan pembentukan karakter anak.
Di hadapan warga dan para bunda PAUD, satu persoalan yang paling sering muncul adalah soal kesejahteraan tenaga pendidik. Honor yang dinilai masih minim menjadi perhatian utama. Di sisi lain, fasilitas belajar mengajar di sejumlah PAUD juga disebut masih membutuhkan banyak pembenahan agar lebih aman dan nyaman bagi anak-anak.
Namun di balik sederet keterbatasan itu, para bunda PAUD tetap menjalankan tugas dengan penuh kesabaran. Mereka bukan sekadar mengajar membaca atau berhitung, melainkan mendampingi anak-anak pada masa paling penting dalam tumbuh kembang mereka.
Bang Jo menegaskan bahwa peran PAUD kini semakin strategis, terlebih setelah pemerintah menerapkan wajib belajar 13 tahun. Menurutnya, pendidikan anak usia dini tidak lagi bisa dipandang sebagai pelengkap, melainkan fondasi utama pembentukan generasi masa depan.
“PAUD memiliki peran sentral dalam mencetak generasi emas. Pemerintah Kota Surabaya juga sudah menindaklanjuti dengan Perwali Nomor 41 Tahun 2024 tentang Standar Pelayanan Minimal PAUD,” ujarnya.
Peraturan tersebut, kata dia, menegaskan tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan layanan pendidikan yang layak bagi anak usia 5 hingga 6 tahun, masa yang kerap disebut golden age. Pada fase inilah perkembangan karakter, kecerdasan, dan kemampuan sosial anak berkembang sangat cepat.
Karena itu, Bang Jo menilai perhatian terhadap PAUD tidak boleh dilakukan setengah hati. Ia menegaskan bahwa para pendidik PAUD memikul tanggung jawab besar sehingga kesejahteraan mereka juga patut diperhatikan secara serius.
Selain itu, ia turut menyampaikan sejumlah program beasiswa yang dapat dimanfaatkan masyarakat, mulai dari beasiswa PAUD, bantuan pendidikan bagi warga kurang mampu, hingga beasiswa bagi penghafal kitab suci. Informasi tersebut disambut antusias warga karena dinilai dapat membuka akses pendidikan lebih luas bagi anak-anak mereka.
Di penghujung kegiatan, Bang Jo memastikan seluruh aspirasi warga akan dikawal melalui fungsi pengawasan dan penganggaran di DPRD. Di tengah keterbatasan yang masih dirasakan para bunda PAUD, pertemuan itu setidaknya menghadirkan satu hal penting: rasa didengar dan harapan bahwa pendidikan anak usia dini di Surabaya akan mendapat perhatian yang lebih layak di masa mendatang. (fred)